+Fitnah lebih kejam dari pembunuhan?

Saya tidak tahu dari mana tepatnya ini berasal dan saya tidak peduli, ini bergulir selalu didalam percakapan dan saya balas "fitnah lebih kejam dari fitness" sebagai candaan. Karena jika kita berpikir ulang mengenai klaim ini dengan moralitas kita, apakah benar fitnah lebih kejam dari pembunuhan?, dan jika iya, bukankah berarti pemfitnah seharusnya dihukum lebih berat dibandingkan pembunuh secara legal maupun spiritual?.

Fitnah dipahami sebagai sebuah perilaku menjelek-jelekan/menuduh orang lain yang tidak didasari dengan kebenaran secara intensional. Walaupun bisa kita pertanyakan misalnya 1/4 dari perkataan seseorang mengenai kita adalah benar dan selebihnya adalah salah, apakah itu tergolong fitnah atau bukan fitnah?, dan ini termasuk 1/8,1/16,dst.Agar kita dapat sepakat dimana batas jelas antara fitnah dan bukan fitnah, sehingga klaim
"fitnah lebih kejam dari pembunuhan" itu dimaksudkan hanya untuk 100% bohong? . Dan jika hanya 10% bohong apakah tidak menjadikan perilaku fitnah tersebut lebih kejam dari pembunuhan?.

Intensionalitas-pun dapat dipermasalahkan. Apakah orang yang menuduh kita dengan hal-hal yang salah  secara tidak sengaja karena yang dia tahu itulah yang merupakan kebenaran, entah karena persepsi dia mengenai kita demikian atau merupakan korban atas kabar bohong mengenai kita, apakah akan sama saja buruknya dengan yang sengaja berbohong untuk menjelek-jelekan/menuduh kita?,apakah itu masih termasuk fitnah?, dan apakah keduanya sama-sama lebih kejam dari pembunuhan?.

Pembunuhan adalah perilaku mematikan yang hidup. Persoalan mati dan hidup ini bagi saya dapat ditafsirkan menjadi banyak bentuk seperti kematian/kehidupan biologis,psikologis/karakter,eksistensial,esensial,identitas,indivual,kolektif,dlsb. Kenapa saya menafsirkan demikian?,karena klaim tersebut bukan merupakan produk ilmiah, yang tentu jika klaim ini merupakan produk ilmiah kita dapat memahami kematian/kehidupan secara biologis saja. Persoalan penafsiran hidup dan mati ini ada dikarenakan kata hidup dan mati dapat dipahami sebagai aktif dan tidak aktif yang memperluas berbagai konteks untuk hadir.

Mari kita sepakati pembunuhan disini merupakan pembunuhan biologis/fisiologis. Bagaimana cara kita menghadapi seorang pemfitnah secara legal/hukum? dengan klaim
"fitnah lebih kejam dari pembunuhan"?.
Apakah kita harus memberatkan kejahatan fitnah lebih dari pembunuhan?, dan jika iya apa dasarnya?.

Cukup mustahil rasanya dengan dasar moralitas, kita sepakat bila kasus pembunuhan, misalnya harus dipenjara 20 tahun dan kasus pemfitnahan harus dipenjara 25 tahuh,dst. Namun saya coba angkat argumentasi-argumentasinya ya...

1.Rasa Sakit

Fitnah lebih kejam dari pembunuhan dibenarkan dengan argumen bahwa rasa sakit yang dihasilkan pemfitnahan selalu berjalan selama korban fitnah masih hidup,sedangkan pembunuhan hanya menghasilkan sebuah rasa sakit/rasa sakit yang sementara yaitu pada saat korban dibunuh.

2. Gangguan Psikologis

Argumentasi kedua adalah karena fitnah dapat menyebabkan gangguan psikologis seseorang yang akan menyiksa kehidupannya bahkan dapat memicu tindakan bunuh diri.

3. Luas Dampak

Argumentasi ketiga adalah fitnah berdampak luas, tidak hanya martabat yang difitnah, melainkan juga keluarga,orang tua,dan kerabat.

Singkatnya semua argumen tersebut didasarkan pada kemungkinan akibat, bila korban fitnah akan merasa sakit, akan tersiksa, akan bunuh diri, dan akan membuat malu dirinya dan keluarganya. Tapi bukankah ada kemungkinan kita yang di fitnah merasa "biasa-biasa" saja?. Tentu seberapa parah substansi dari fitnah/kebohongan yang dilontarkan sangat mempengaruhi tanggapan kita. Fitnah mengenai kita yang tidak membayar snack di kantin sekolah berbeda dengan fitnah atas kita yang menghamili anak orang. Dan balik lagi apakah keduanya termasuk fitnah, dan apakah keduanya sama-sama lebih kejam dari pembunuhan?.

Kalau kita perhatikan, bisa kita anggap bahwa seolah-olah mereka yang ber-argumen demikian memilih dibunuh daripada difitnah  (jika harus memilih). Daripada kita mempermasalahkan variabel rasa sakit, kenapa kita tidak mempermasalahkan variabel kerugian yang dapat diobjektifikasi?. Karena persepsi rasa sakit setiap orang dapat berbeda-beda dan bagaimana cara menentukan suatu persoalan dari rasa sakit?,jika saya difitnah atas mencuri mobil dan tidak tersinggung, sedangkan orang yang difitnah mencuri mobil-mobilan tersinggung, apakah fitnah atas pencurian mobil-mobilan orang tersebut lebih parah daripada fitnah atas saya yang mencuri mobil?. Jadi, walaupun jika difitnah lebih sakit daripada mati, tapi apakah itu lebih merugikan?.

Lalu argumentasi ini seolah-olah mengenyampingkan penyiksaan atau cara orang membunuh dalam variabel pembunuhan, apakah pembunuhan tanpa penyiksaan atau tanpa rasa sakit ada?, ya ada, tapi pembunuhan dengan penyiksaan atau rasa sakit pun ada. Apakah akumulasi rasa sakit dari fitnah lebih tinggi daripada akumulasi rasa sakit atas penyiksaan dalam pembunuhan?. Dan jika kita ingin membandingkan konsekuensi, konsekuensi rasa sakit yang muncul dari dibunuh bisa lebih besar kemungkinannya ada daripada kita di fitnah bukan?. Dan pembunuhan pada "fitnah lebih kejam dari pembunuhan" ini ditujukan pada pembunuhan secara general atau pembunuhan tanpa penyiksaan atau pembunuhan dengan penyiksaan?.

Dan semua akibat misalnya menanggung rasa sakit, gangguan psikologis, malu, dlsb tidak hanya dihasilkan dari tuduhan palsu/menjelek-jelekan secara bohong,tapi tuduhan yang benar adanya/menjelek-jelekan secara fakta juga dapat mengakibatkan hal tersebut, mungkin istilahnya adalah membeberkan aib jika didasari oleh kebenaran. Dengan akibat yang sama, apakah fitnah dan membeberkan aib sama-sama lebih kejam dari pembunuhan?. 

Dari semua argumen ini muncul pertanyaan, yang dipermasalahkan itu perilaku fitnah atau akibat dari perilaku fitnah?. Karena jika kita sepakat bahwa efek dari fitnah adalah beragam, dapat destruktif dan dapat tidak berarti. Maka "fitnah lebih kejam dari pembunuhan" merupakan suatu kemungkinan, bukan kepastian.

Mari kita tafsirkan apa yang dimaksud dari kata kejam dalam klaim "fitnah lebih kejam daripada pembunuhan".
Kejam disini dapat diartikan secara objektif sebagai lebih jahat dan secara subjektif yaitu lebih tega. Secara objektif kita sepakat bahwa pembunuhan lebih merugikan dibandingkan pemfitnahan (paling tidak secara legal demikian). Tapi kejam disini bisa kita pahami bahwa orang yang melakukan fitnah niatnya itu lebih tega/lebih tidak bermoral dibandingkan niat orang yang melakukan pembunuhan. Jadi, intensi orang dalam memfitnah lebih kurang ajar daripada intensi orang dalam membunuh, dan ini bisa tanpa berpendapat bahwa perilaku fitnah lebih buruk dibanding pembunuhan/lebih merugikan, karena yang dirujuk adalah intensi/moral orang tersebut, bukan perilakunya. Ini mungkin tidak apple to apple, tapi semoga kalian paham apa yang saya maksudkan.

Kita tahu bahwa misalnya tindakan mencuri lebih buruk daripada tindakan selingkuh, tapi intensi/niat/moral pencuri dalam mencuri bukan berarti lebih buruk daripada intensi/niat/moral orang yang selingkuh, simplenya, orang selingkuh lebih tega daripada orang yang mencuri, moral tindakan pencurian memang lebih buruk daripada tindakan selingkuh, tapi moral orang yang mencuri lebih baik daripada moral orang yang selingkuh
(ini hanya contoh, bukan berarti saya setuju, pahami saja maksudnya).

Fitnah yang saya maksud adalah fitnah yang sudah saya paparkan di awal tulisan, saya tidak membahas aspek spiritual/kepercayaan, saya tidak peduli. Saya tidak membahas apakah fitnah dalam bahasa kita dipahami secara salah, dlsb, saya tidak peduli. Saya membahas klaim fitnah yang dipahami oleh sosio-kultural kita atau paling tidak sekitar saya yang demikian pemahamannya.

Terimakasih telah membaca 😁

Komentar