+Keadilan

Pengertian keadilan adalah bahasan yang kompleks,sifatnya dapat berkaitan sekaligus tidak berkaitan dengan kesamaan yang dipertanyakan juga dengan apa atau siapa kesamaan itu dimaksudkan menambah kerumitan pemahaman kita mengenai keadilan.

Secara teoritik mungkin akan dicapai secara konkrit definisi dari keadilan,tapi apakah itu dapat di implikasikan kedalam realitas?,yah..tergantung bentuk keadilan yang bagaimana?.

Keadilan adalah konsep relasional,dalam konteks manusia maka relasi antara manusia dengan manusia, manusia dengan hukum,manusia dengan alam,manusia dengan hewan,dlsb.Relasional juga dapat diartikan bahwa keadilan membutuhkan lebih dari satu "subjek",contoh:

"Seorang suami mengabaikan istri pertama".
Disini kita tidak dapat menentukan peristiwa diatas sebagai adil atau tidak adil,yang bisa kita tentukan adalah ini jahat/buruk.

"Seorang suami mengabaikan istri pertama, dan istri keduanya dirawat"
Disini kita baru dapat menentukan ini adil atau tidak adil.

"Tono mencuri dan dipenjara 2 tahun".
(Tidak dapat ditentukan adil/tidak adil) .

"Tono mencuri dan dipenjara 2 tahun,padahal didalam undang-undang, kasus pencurian dipenjara maksimal 1 tahun".
(Dapat ditentukan adil/tidak adil) .

Mari masuk kedalam pengertian keadilan. Adil ada pada insting kita dalam bentuk kesamaan/kesesuaian dengan variable konten dan konteks yang tidak menyeluruh,sejak mungkin awal bersekolah kita akan tersinggung apabila guru memarahi kita pada saat tidak mengerjakan PR,namun pada saat teman kita tidak mengerjakan dia tidak dimarahi,walaupun konteksnya teman kita baru sekali tidak mengerjakan,kita sudah berkali-kali tidak mengerjakan/teman kita ada keperluan sedangkan kita tidak,dlsb.Oleh karena itu jika kita ingin diperlakukan sama,maka kita dapat bertanya apakah "kita" sama?,tentu saja tidak,pasti ada sebuah atau beberapa variabel yang membedakan setiap individu karena seriap dari "saya" Itu autentik dan tak mungkin ditemukan "non-saya" yang identik dengan "saya" yang membuat kesamaan mutlak menjadi benar adanya.

Keadilan populer adalah keadilan dengan dasar asumsi bahwa,
"Semua manusia itu sama"
"Semua sama di mata tuhan".
Yang menjadi ruh dari keharusan kita berbuat adil.
Pertanyaannya adalah bagaimana jika asumsinya seperti ini,

"Semua manusia itu sama,sama-sama berbeda"

Kita sama karena kita berbeda,tentu ini berbeda dengan kesamaan yang dimaksudkan pada kesamaan manusia versi sebelumnnya,yang berasumsi mengenai kesamaan mutlak.

Atau kita ambil jalan tengah yaitu,

"Manusia itu sama sekaligus berbeda".
Yang mengakui adanya kesamaan sekaligus perbedaan,sebagian sama dan sebagian berbeda,karena jika kita menghiraukan perbedaan dalam "memberi" akan menjumpai masalah,contoh kasus :

"Setiap rakyat Indonesia mendapat bantuan pandemi berupa uang tunai sebesar 100rb/keluarga".

Apakah adil jika orang kaya dan miskin sama-sama mendapatkan 100rb?.Apakah adil jika orang miskin A yang masih memiliki tabungan/anaknya sudah bekerja/lingkungannya kaya akan sumber makanan mendapatkan 100rb, sama dengan orang miskin B yang tidak demikian?.Apakah adil bagi penerima A yang fasilitas pembangunan daerahnya sudah maju dibandingkan penerima B yang hidup katakanlah di hutan belantara (tidak ada toko/supermarket,dll yang membuat uang 100rb tersebut sulit disalurkan menjadi sesuatu)?.

Jawaban saya dari pertanyaan diatas adalah tidak,maka jika keadilan hanya berdasarkan kesamaan konten adalah kekeliruan,kita-pun harus menyamakan konteks untuk memberikan perilaku yang sama,konsepsi ini dapat mendukung kesamaan versi populer,akan tetapi,apakah dalam realita ada manusia dengan keseluruhan konteks yang sama?

Jika dalam realita tidak pernah ada keseluruhan konteks yang sama,maka keadilan dalam versi populer mustahil untuk dicapai,tapi bukan berarti keadilan populer itu keliru,bagi saya itu benar secara teori,tapi terpaksa salah secara realita.Dan kita tetap dapat mempercayai bahwa kita semua sama,karena mudah jika variabel konteksnya hanya kaya/miskin dan sejenisnya. Tapi persoalan genetika,lingkungan,dan pandangan hidup sulit untuk dipertimbangkan dalam mengukur keadilan/menentukan hukuman.

Lalu karena adil seolah-olah mustahil untuk ada, saya sendiri merumuskan adil sebagai kesesuaian konsekuensi dengan realita,singa yang memakan kijang adalah adil,dan singa yang menyayangi kijang adalah tidak adil.Untuk manusia,manusia yang memakan kijang adalah adil dan manusia yang menyayangi kijang juga adil,karena konteks manusia dan singa berbeda.Manusia dengan keadaan biologisnya dapat "menciptakan" berbagai realita,mudahnya kita dapat mengatakan bahwa manusia yang memakan kijang itu tidak adil/kejam,dll.Tapi apakah singa yang memakan kijang akan kita hakimi dan kita paksa/perintahkan untuk memakan daging vegan,sayur,jamur,kacang,dan buah-buahan saja? ,jika iya,bagi saya itulah bentuk ketidakadilan,tapi manusia yang memaksakan singa memakan tumbuhan tersebut bisa adil jika secara konteks dia memiliki keadaan biologis kebodohan atau kegilaan.

Maka kita bagi keadilan menjadi 2 bentuk yaitu keadilan konten dan keadilan konteks.Singa yang memakan tumbuhan itu tidak adil secara konten, tapi dapat adil secara konteks apabila populasi kijang habis dan tersisa tumbuhan saja,dipaksa memakan tumbuhan oleh manusia gila,dll

Namun singa yang memakan tumbuhan karena populasi kijang habis dan berevolusi menjadi pemakan tumbuhan ,lalu suatu ketika karena suatu hal populasi kijang kembali lagi,maka singa yang memakan kijang menjadi tidak adil secara konten.

Dan memang saya katakanlah mereduksi keadilan hanya kedalam hukum alam,bukan hukum seperti norma,undang-undang,dlsb. Sebab saya ragu keadilan dapat tercapai jika dikaitkan dengan selain hukum alam apalagi moralitas kita,tapi mari kita bahas karena saya akan berpandangan lain jika keadilan yang kita maksud bukanlah keadilan universal,lebih kedalam bentuk-bentuk penghargaan akan kesepakatan kolektif/individual yang berkaitan erat dengan konsep hak.

Afganistan yang dikuasai oleh rezim Taliban melarang perempuan bersekolah,tetapi lelaki dapat menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.Menurut kita ini adalah bentuk ketidakadilan.Tapi bagaimana jika setiap perempuan di Afganistan mendukung keputusan tersebut?,bagaimana cara kita berlaku adil pada orang yang ingin diperlakukan tidak adil?.Jawaban saya adalah biarkan saja,jika dengan suatu ideologi sebuah ketidakadilan dianggap sebagai keharusan/kemuliaan/kewajiban,tugas kita adalah menghargai keputusan mereka dan itulah yang adil.

Disini dapat dipahami bahwa hukum tidak selalu berisi semangat keadilan,tapi juga dapat berisi semangat ketidakadilan,yang menjadikan hukum bisa berkaitan dan bisa tidak berkaitan dengan keadilan dalam konsepsi moral.Dan dalam konsepsi moral keadilan-pun dapat berkaitan dan juga tidak dengan kebaikan,karena adil bukan berarti baik, jika kita menggunakan konsep adil sebagai kesamaan.

"Seorang suami mengabaikan istri pertama, dan istri keduanya dirawat"

Kita sepakat perilaku diatas tidak adil,perilaku tersebut akan menjadi adil apabila,

"Seorang suami merawat istri pertama, dan istri keduanya"

Tapi bukankah jika,
"Seorang suami mengabaikan istri pertama, dan istri keduanya"
itu juga adil?.Karena intinya adalah kesamaan perilaku/pemberian,disamping perilaku itu baik/buruk/jahat/mulia.maka hukum bisa berkaitan dan juga tidak berkaitan dengan keadilan,dan keadilan bisa berkaitan dan juga tidak berkaitan dengan kebaikan.Keadilan ada diluar hukum dan kebaikan/kejahatan.Hukum/undang-undang hanya pasti berkaitan dengan kebolehan/ketidakbolehan.

Oleh karena itu, keadilan yang mungkin adalah keadilan dalam bentuk menghargai setiap pilihan kelompok/individu mengenai bagaimana mereka ingin hidup/bermasyarakat. Itulah kenapa saya mengatakan bahwa keadilan berkaitan erat dengan hak,dan hak bersifat opsional.Hak beragama bermakna kita dapat beragama atau tidak beragama,hak berpendapat bermakna kita dapat berpendapat maupun diam.Dan seharusnya akan menjadi sama dengan hak hidup yang berarti kita dapat mati dan hak bebas yang berarti kita dapat dikekang.Tentu itu semua bukan karena paksaan/dipengaruhi pihak lain,semua itu murni karena kita ingin mati dan ingin dikekang,yang sudah sesuai dengan konsep hak yang patut dihargai.

Namun keadilan dalam bentuk penghargaan ini akan menjumpai masalah jika suatu kelompok ingin hidup dengan kotor dalam artian menghancurkan alam,tidak mengurus kesehatannya,dlsb.Karena hancurnya alam akan berdampak pada kelompok lain,tidak mengurus kesehatan-pun dapat berdampak pada kelompok lain, jika saling berinteraksi dapat menyebarkan virus,bakteri,dlsb.Oleh karena itu ada batasan pandangan hidup yang dapat ditoleransi/dihargai.Intinya adalah menghargai pilihat setiap kelompok/individu selama tidak merugikan kelompok/individu lain.Walaupun apakah ada pilihan yang tidak merugikan kelompok/individu lain dapat dipertanyakan dan diperdebatkan.Pandangan hidup yang berbeda-beda-pun dapat dipertanyakan, apakah perbedaan itu ada karena ide yang "terbaik" tidak bersifat singular atau hanya karena kebodohan tidak dapat menemukan ide yang "terbaik"?

Lalu jika kita memasukan variabel takdir, maka keadilan akan menjadi lebih hina untuk dibahas sesuai dengan konsepsi Platon dimana adil adalah budak hidup sebagai budak,pemimpin hidup sebagai pemimpin,penjaga hidup sebagai penjaga.Budak yang ingin hidup/hidup sebagai pemimpin itulah tidak adil. Saya harap kalian dapat membedakan takdir dan bakat.Saya tidak setuju dengan takdir,tapi setuju untuk bakat.Yang perlu dilakukan adalah kita adil dalam resource dan akses (walaupun mustahil)  sehingga dapat mengatasi/memaksimalkan variabel bakat tersebut

Kita tidak dapat mendasari sebuah konsep keadilan secara realistis karena kita sama,jelas-jelas kita berbeda,maka yang mungkin adalah mendasari keadilan dengan kemiripan bukan kesamaan. Kita juga dapat menjadikan keadilan sebagai ide regulatif Immanuel Kant (maaf jika salah),dimana tercapainya keadilan itu tidak penting, yang penting adalah usaha kita dalam mencapainya. Walaupun jika kita tahu bila keadilan tidak dapat dicapai,namun setiap tindakan yang kita lakukan jangan pernah sengaja melawan keadilan/tidak berusaha untuk mencapai keadilan.

Sekian ngalor-ngidul bahas keadilan,saya hanya membahas secara konseptual, untuk objek-objek yang harus sama/diusahakan adil apa saja mungkin akan dibahas lain kali (jika saya mau).Dan mau kalian pesimis atau optimis dengan keadilan kalian masing-masing saya ngga perduli hehehe😁. Dan ada satu pertanyaan lagi yang belum saya temukan jawabannya yaitu ,
"Apakah keaadilan menguntungkan? ".
Silahkan komen.....

Terimakasih telah membaca.





Komentar

Postingan Populer