+PUSAT PERBELANJAAN SEBAGAI SENTRA PENDIDIKAN KARAKTER DAN WIRAUSAHA

Peran mahasiswa sebagai agent of changes menuntut mahasiswa untuk dapat berkontribusi terhadap masyarakat dalam rangka membawa perubahan pada kehidupan ke arah yang lebih baik dalam lingkup sempit maupun luas. Salah satu cara untuk melaksanakan peran tersebut secara strategis ialah dengan menjadi wirausahawan. Sebagai warga Indonesia, jika kita mengacu pada jumlah  wirausahawan di Indonesia yang baru 3,4%, jumlah tersebut masih sangat kurang untuk menjadi suatu negara maju yang butuh 12-14%. Dan beberapa negara anggota di ASEAN telah memiliki wirausahawan dengan kisaran 7-8% yang membuat Indonesia cukup tertinggal dalam hal presentase jumlah wirausahawan dari negara-negara lainnya yang sudah maju dan negara-negara ASEAN seperti Malaysia, Singapur, dan Thailand. 

Oleh karena itu Indonesia sangat membutuhkan munculnya sosok wirausahawan karena tercatat pada PDB (Produk Domestrik Bruto) tahun 2021, yang menjadi penyumbang terbesar untuk pendapatan negara ialah di bidang wirausaha UMKM (Unit Mikro Kecil Menengah) dengan nilai lebih dari 61%. Dan dengan terjadinya bonus demografi di Indonesia, hal tersebut dapat kita manfaatkan untuk mencapai tujuan kita. Namun harus ada pengelolaan yang baik agar dapat berdampak positif dan menghasilkan generasi emas termasuk para wirausahawan unggul. Tetapi bonus demografi dapat menjadi ancaman bilamana tidak terorganisir dengan baik dan berakhir pada meningkatnya angka pengangguran di Indonesia.

Ditambah, dengan segala permasalahan sosial yang terjadi di saat ini, menjadi wirausahawan saja tidak cukup. Kita membutuhkan sociopreneuship di dalam jiwa wirausa okihawan yang disebut sebagai sociopreneur atau social entrepreneur. Sociopreneur adalah seseorang yang memiliki jiwa sosial yang dengan kreativitasnya dapat menciptakan sebuah kegiatan usaha yang melibatkan orang lain yang menghasilkan manfaat dan kebaikan bagi orang lain dan bukan sekedar keuntungan pribadi. Sedangkan sociopreneurship merupakan sebuah konsep yang pertama kali disebutkan pada tahun 1972 oleh Joseph Banks dalam karya bernama The Sosiology of Social Movements, ia menggunakan istilah itu untuk menggambarkan penggunaan keterampilan manajerial untuk mengatasi masalah sosial dan mengatasi bentuk-bentuk tantangan yang ada didalam bisnis. Konsep ini menjadikan seseorang untuk memikirkan bagaimana mereka bisa bermanfaat bagi sesama dan menjadikan dunia lebih baik. Maka tentu seorang sociopreneur harus memiliki paradigma kolektif yang mementingkan kepentingan bersama dan memiliki/dilandasi dengan misi sosial.  Entah bergerak di sektor pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat kecil, peningkatan taraf edukasi/kesehatan/pendidikan masyarakat, dan segala permasalahan sosial lainnya, sosok sociopreneur dapat hadir untuk memunculkan solusi dan menghilangkan segala kemelutanan yang ada.

Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin canggihnya teknologi, pendidikan saat ini seolah-olah hanya fokus untuk menghasilkan manusia-manusia cerdas pengetahuan dan keterampilannya saja, akan tetapi lemah dalam moral dan tingkah lakunya. Hal ini menimbulkan keprihatian bagi dunia pendidikan. Jadi haruslah ada usaha lebih dari pihak terkait untuk menyelsaikan kekurangan tersebut. Dari penulis sendiri tertarik untuk memanfaatkan pusat perbelanjaan sebagai sentra pendidikan karakter. Idealnya, pusat berbelanjaan  yang dimaksud adalah yang memang dibangun dengan tujuan menjadi sentra pendidikan karakter, jadi, pastilah konstruksi yang ada tidak seperti pusat perbelanjaan pada umumnnya/yang sudah ada, yang hanya berfungsi sebagai tempat jual beli. Namun itu tidak berarti pusat perbelanjaan yang sudah ada dan berfungsi saat ini tidak dapat menjadi tempat terlaksananya pendidikan karakter.

Saya memilih pusat perbelanjaan sebagai tempat pendidikan karakter dikarenakan terinspirasi oleh Agora yang menjadi tempat untuk pertemuan terbuka dan juga tempat dilaksanakannya kegiatan jual-beli antara pedagang yang menempatkan barang dagangannya di pilar-pilar Agora dengan pembeli  pada masa Yunani Kuno (900-700 SM). αγοράζω, agorázō, "aku berbelanja", dan αγορεύω, agoreýō, "aku berbicara di depan umum" adalah kata yang dihasilkan dari keberadaan Agora, yang menjadi tempat transaksi produk/jasa dan transaksi ide antar masyarakat. Banyak ahli yang menyatakan disinilah asal-muasal demokrasi, dan disinilah tempat masyarakat, penjabat, hingga raja berfilsafat, berdebat, dan ber-retorika. Yang paling terkenal ialah Sokrates yang menjadikan Agora sebagai arena tanya-jawab dan memberikan pemikirannya kepada masyarakat. Dan disaat itulah Yunani dikenal sebagai contoh dari zaman keemasan filsafat, karena pada masa ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Bangsa Yunani tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi, juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis) yang tentu menjadi faktor utama dalam menjadi seorang akademisi maupun sociopreuneur agar dapat menghasilkan pemahaman dan keputusan yang objektif,akurat, dan inovatif. 

Namun hasil yang terjadi pada saat itu belum maksimal. Belum ada pengaturan jelas mengenai sistem untuk mencapai tujuan tertentu dengan modul-modul yang dapat dipertanggungjawabkan dikarenakan terbatasnya pengetahuan. Jika tujuannya adalah menghasilkan sociopreuneur dari kalangan mahasiswa, idealnnya konstruksi pusat perbelanjaan dibangun di dekat/di sebelah kampus dan dapat memfasilitasi mahasiswa dalam melatih kemampuannya untuk menjadi seorang sociopreuneur yang didalamnnya ada kemampuan berbicara, kemampuan ber-literasi, kemampuan  bernegosiasi, kemampuan manajerial, kemampuan berinovasi, kemampuan berempati, dan kemampuan berintegritas. 

Oleh karena itu perlu dibangun podium ditengah-tengah pusat perbelanjaan yang dikelilingi oleh stan-stan tempat penjual memasarkan jualannya, bisa diberikan ruang untuk orang yang ingin mendengarkan opini/karya pembicara ataupun tidak dan bersebrangan langsung dengan kerumunan pembeli dan penjual. Tidak lupa juga gedung tempat terlaksannnya diskusi, debat, seminar, dlsb yang memang membutuhkan situasi tenang/kondusif, dan kebijakan dari pihak terkait agar mahasiswa dapat memanfaatkan pusat perbelanjaan tersebut dalam proses pembelajarannya tanpa ada keberatan dari masing-masing pihak yang berujung masalah. 

Pihak kampus harus membuat jadwal piket berbicara dan  jadwal kegiatan secara berkala. Topik yang disampaikan dapat diarahkan sehingga lebih terkait dengan permasalahan sosial dan harus siap jika ada yang mempertanyakan bahasannya setelah selesai disampaikan, namun tentu mahasiswa juga diberikan waktu untuk menyampaikan bahasan dengan tema bebas. Mahasiswa dituntut untuk memahami  bahasan yang disampaikan terutama dengan literasi yang juga bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan kepercayaan diri  mahasiswa karena memahami persoalan yang dibahas, dan banyak diksi yang dipelajari sehingga lebih mudah dalam menyajikan topik, opini,ide/gagasan yang ingin disampaikan. Literasi penting dilakukan sebab rata-rata tingkat melek huruf menjelaskan lebih dari 55% perbedaan dalam tingkat pertumbuhan jangka panjang PDB per kapita baik di tingkat nasional maupun provinsi. Proporsi orang dewasa dengan tingkat melek huruf yang rendah menghambat nilai pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dan beberapa efek di tingkat nasional menyebabkan peningkatan prevalensi penyakit dan kecelakaan yang diderita oleh orang dewasa dengan kemampuan literasi rendah. Oleh karena itu, literasi menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk memiliki wawasan yang holistik atas suatu permasalahan sosial dan dapat menemukan solusi dari referensi terkait maupun dari proses menyintesis konsepsi-konsepsi yang sudah ada dengan kreatifitasnya.

Berangkat dari  tujuan menjadikan pusat perbelanjaan sebagai tempat  pendidikan karakter dan tempat simulasi kegiatan wirausaha dan bermasyarakat, maka ada kegiatan berkala lainnya yang mendukung seperti menjual kembali produk yang didapatkan dari pusat perbelanjaan setelah melalui proses pengolahan/modifikasi dengan membentuk tim yang beranggotakan pimpinan, bagian pemasaran, bagian produksi,dlsb. Dengan ini mahasiswa akan belajar untuk mengkoordinasi sebuah tim dan bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan. Keanggotaan tim diubah secara bergilir agar setiap dari anggota tim merasakan setiap tanggung jawab jabatan yang ada. Program ini dapat dilakukan selama 1-3 bulan dalam 1 tahun masa belajar mahasiswa di kampus. Setiap program ini dilaksanakan harus ada perubahan komoditas, misalnya di tahun pertama komoditasnya berupa  makanan, ditahun kedua kesenian, ditahun ketiga teknologi. Dengan ini mahasiswa juga bisa memberikan timbal balik kepada masyarakat dengan mengenalkan produknya kepada masyarakat dan mengajarkan mereka dalam memasarkan produk-produknya secara efektif. Untuk pemodalan sebaiknya ditanggung oleh pihak kampus dan dikembalikan oleh mahasiswa dalam jumlah yang sama agar produk yang dijual tidak terlalu besar modalnya, dan kompetisi antar tim wirausaha menjadi adil, oleh karena itu, segala pemasukan dan pengeluaran wajib di dokumentasikan secara akuntabel. Penilaian dalam penjuaraan tim wirausaha ditimbang dari aspek produk yang dijual, apakah produk tersebut dapat menjawab sebuah/beberapa permasalahan sosial yang ada?, orisinalitas produk, dan aspek keuntungan yang didapat dengan rasio 6:4 (6 point untuk aspek produk dan 4 point  untuk aspek keuntungan). Dengan ini mahasiswa ditekan agar dapat menjual produk yang inovatif dan mempopulerkannya, bukan menjual produk yang sudah populer di masyarakat agar dapat memunculkan sociopreuneurship pada mahasiswa. Dari kegiatan ini mahasiswa diharapkan dapat belajar bagaimana cara bertransaksi, negosiasi, ideasi, berkerja sama, berwirausaha, dan bertanggung jawab. 

Tidak hanya mahasiswa yang dapat memanfaatkan pusat perbelanjaan sebagai ruang simulasi dan pendidikan. Sejatinya karakter dan keterampilan akan lebih baik dilatih dan dipelajari sedini mungkin. Segala jenjang pendidikan dari tingkat prasekolah hingga SMA dapat juga berlatih untuk membentuk karakter dan keterampilannya dengan modul-modul yang sesuai. Untuk anak prasekolah hingga SMP dapat diajarkan dari berangkat menggunakan bus atau kendaraan umum mengenai prioritas tempat duduk, setelah sampai dapat diajarkan cara menyebrang dan kepatuhan terhadap rambu-rambu lalu lintas, simulasikan ada dompet,ponsel,dlsb yang tergeletak di jalan pusat perbelanjaan untuk mengajarkan cara menghargai kepemilikan orang lain dengan jangan mengambilnya/menyerahkannya kepada pihak berwajib jika menemui barang yang bukan milik kita, belajar cara berinteraksi dan bertransaksi secara benar, belajar cara berterimakasih dan meminta maaf, belajar membuang sampah dari barang yang dibeli pada tempatnya. Simulasi sebagai bentuk pembelajaran terkhususnya membangun karakter terbukti lebih efektif dari bentuk pembelaran non-simulasi. Telah berlangsung penelitian di SMP Negeri 2 Tulang Bawang Tengah,Kec. Tulang Bawang Tengah, Kab. Tulang Bawang Barat,Kota Lampung, penelitian itu dilakukan pada siswa-siswi tahun pelajaran 2015/2016 dan membuktikan bila siswa-siswi yang diberi model pembelajaran PKn dengan model simulasi mempunyai nilai rata-rata kelas yang lebih tinggi tingkat pemahaman materi dari pada  siswa kelas kontrol yang tidak diberi model simulasi. Dan untuk pelajar tingkat SMA dapat menyesuaikan dengan program yang dijalani mahasiswa dengan kadar yang lebih ringan. 

Perlu ada kajian lebih lanjut terhadap strategi menjadikan pusat perbelanjaan sebagai ruang simulasi kewirausahaan  dan pendidikan karakter dalam rangka meningkatkan jumlah wirausahawan atau sociopreuneur. Ada banyak keuntungan khususnya dalam jangka panjang bila setiap wirausahawan mementingkan juga dampak sosial dan lingkungan, dan setidaknya bila tidak menjadi wirausahawan, masyarakat dapat lebih beradad, ber-empati, dan terampil sehingga SDM berkualitas unggul dan mencegah terjadinya konflik yang diakibatkan oleh hal-hal semu. 


Terimakasih telah membaca 😁. 


Komentar

Postingan Populer