+Kemanusiaan Yang Tidak Adil dan Biadab
"Orang lain adalah neraka". Ungkap Sartre, seorang filsuf besar Prancis dengan nada najis dan muak, dimana tatapan orang lain seperti menyedot seluruh dunia dan kehidupan kita. Yang membuat kita merasa jijik dan malu dengan kondisi dan pilihan hidup kita. Orang lain selalu menatap,bersembunyi, mengintip, dan menanti kelengahan kita. Selalu mencari cara dan kesempatan untuk menjatuhkan kita, dan menghendaki ketiadaan kita. Namun dari pendapat diatas harus juga disadari bahwa kita adalah neraka bagi orang lain.
Pencuri sayur yang dikubur hidup-hidup, terduga pelaku pelecehan seksual yang juga dilecehkan secara seksual, pelaku perzinahan yang menjadi pameran porno berjalan di kampung-kampung/mall. Tatapan tajam yang menyiratkan kewajaran untuk membinasakan mereka, tidak layak dihargai/dihormati, darahnnya halal, layak merasa malu dan jijik pada dirinnya sendiri hingga ia wafat. Sungguh menakutkan, karena kemanusiaan adalah kebiadaban dan ketidakadilan.
Tatapan tajam dan merendahkan tersebut terasa lebih menjijikan karena bersifat tidak adil. Fiksi memberikan tingkatan seseorang untuk dibenci dan direndahkan, saya ambil contoh korupsi, kita semua membenci tindakan korupsi, dan sebagian dari kita berharap mereka patut dihukum mati. Saya duga mereka yang berpikir demikian adalah mereka yang tak memiliki relasi yang erat dengan koruptor tersebut. Bagaimana jika yang korupsi adalah kenalan anda?, bagaimana jika teman anda?, bagaimana jika sahabat anda?, bagaimana jika saudara anda?, bagaimana jika itu orang tua anda sendiri?, apakah anda masih berpikir mereka menjijikan dan patut dihukum mati?.
Nilai-nilai evolusioner yang kita bawa dan menguntungkan bagi kita terutama pada masa pemburu/pengumpul (waktu kita dimasa itu signifikan lebih panjang dari masa-masa lainnya) mungkin memberikan kesulitan bagi kita dalam menghadapi masa sekarang, dan bahkan dapat menjadi penyebab kepunahan spesies kita sendiri, walaupun itulah yang menyelamatkan kita pada masannya. Menghabisi individu/kelompok yang menurut kita berbahaya dan berpotensi berbahaya adalah insting yang tentu baik bagi keselamatan kita pada masannya, namun apakah secara moral ini harus dipertahankan?.
Saat ini sistem sudah berjalan, segala aktivitas kita diatur dalam hukum/aturan/norma/etika dan kita dijaga oleh bagian dari kita sendiri yang juga mengawasi jalannya aturan tersebut, bahkan kita menciptakan tuhan-tuhan yang bertugas mengawasi aktivitas kita selama 24 jam, agar kita selalu merasa rendah dan malu terutama jika melakukan kesalahan. kemanusiaan begitu tidak adil dan biadab, maka tentu semua itu diperlukan. Namun dengan kesepakatan tersebut masih banyak yang biadab dan tidak adil.
Disini saya berpendapat tanpa berkata kebiadaban/ketidakadilan tidak berada pada diri saya sendiri, kemanusiaan adalah ketidakadilan dan kebiadaban, dan saya adalah manusia, maka secara inheren saya biadab dan tidak adil. Akan tetapi bagaikan cermin, bagaimana kita melihat diri kita sendiri dengan melalui cermin. Kita adalah cermin orang lain, dan orang lain adalah cermin kita, ketidaksinkronan inferior memunculkan penolakan dan perendahan, sedangkan ketidaksinkronan superior memunculkan rasa iri dan ketidaknyamanan, saya sadari mungkin alasan saya "patuh" bukan karena saya beradab/adil, Namun disebabkan rasa takut dan cemas akan tatapan yang merendahkan dan tatapan najis dari orang lain. Dan oleh karena itu juga mungkin mereka yang senang membuang sampah sembarangan di Indonesia akan menghilangkan kebiasaan tersebut di Singapur, bukan karena mereka berubah menjadi biadab, tapi hanya takut akan kebencian atau direndahkan masyarakat yang ada disana, dan berujung menyusahkan dirinnya sendiri. Lalu, bagaimana jika suatu hari kita sadari bahwa kita tidak terlihat didepan cermin, apa yang akan kita lakukan?
Jika kita tidak terlihat, misalnnya karena kita mengenakan jubah tembus pandang yang ada pada film Harry Potter kira-kira tindakan apa yang akan kita lakukan?. Memuaskan hasrat seksual kita?, Membunuh musuh kita?, yang pasti saya sendiri sangat mungkin untuk melanggar norma/hukum karena saya tahu tidak akan ada tatapan setelahnnya, tidak ada yang melihat saya. Karena kemanusiaan adalah kumpulan cermin.
Dan jika kita berujung pada bergantung pada cermin tunggal yang memperlihatkan diri kita bersama. Tentu sebagian orang akan merasa malu dan rendah. Tapi bagi saya jika itu bukan bagian dari kita, lebih baik kita hancurkan dan berbuat sesukannya, saya lebih baik di rendahkan oleh sesama saya karena lebih kurangnnya kita bisa memahami dalam taraf tertentu. Namun cermin tunggal itu merendahkan kita tanpa memahami apapun. Hancurkan hal tersbut karena kemanusiaan sudah bangkrut dan gagal, dan kita tidak layak untuk hidup.
Komentar
Posting Komentar