+ Sebisa Mungkin Jangan Hadapi Masalah

Tulisan ini akan sangat miskin referensi dan kutipan ahli dikarenakan saya mencoba memberikan pandangan berlawanan dengan kearifan mayoritas bahwa kita harus mengambil sikap gagah berani dalam menghadapi masalah. Hal ini dapat dipahami sebab sosial senang memadupadankan masalah dengan konsekuensi, tentu kita harus menghadapi dengan gagah berani konsekuensi, semisal apa sih kosekuensi dari menyatakan perasaan cinta kepada lawan jenis?.

a. Diterima

b. Ditolak

c. Digantung

Ketiga variabel tersebut adalah kosekuensi dari menyatakan perasaan cinta, jadi konsekuensi itu erat dengan kausalitas, akibat logis dari suatu sebab (jangan galau kalo ditolak 😝),

lalu apa yang dimaksud dengan "masalah"?.


Masalah itu tidak dapat berdiri sendiri karena sebelum masalah ada, tujuan harus ada terlebih dahulu, jadi masalah tidak membicarakan apa akibat dari kita menyatakan perasaan cinta, tapi sudah ada kondisi dimana kita mempunyai tujuan yaitu misal "untuk memiliki orang yang kita cintai", tapi dalam perjalanan ada hal-hal yang menghalangi kita untuk mencapai tujuan tersebut, entah fisik kita jelek, sifat kita buruk, ekonomi kita kurang,dlsb. Jadi masalah adalah sesuatu yang membatasi kita untuk mencapai tujuan. Bayangkan kita mau jalan dari titik A ke titik B, namun ditengah jalan ada tembok besar, nah tembok besar ini bisa kita sebut sebagai masalah dan tentunya kita bisa memutari tembok itu, memanjat, atau bahkan menghancurkanya agar kita dapat sampai ke titik B yang merupakan tujuan kita, dan ini dapat kita sebut sebagai teknik/cara menyelsaikan masalah.


Jadi, masalah ada karena tujuan ada terlebih dahulu, tidak ada masalah tanpa ada tujuan, mungkin dari kalian ada yang berpikir "saya hidup tanpa tujuan", maka konsekuensi logisnya adalah kalian tidak punya masalah, tapi bukan berarti saya mengajak kalian hidup tanpa tujuan agar tidak perlu memiliki masalah, melainkan saya ingin mengajak kalian untuk lebih dapat melihat peta realitas, karena bisa jadi keterbatasan pengetahuan yang kita miliki membuat kita hanya dapat menyimpulkan satu atau beberapa jalan untuk mencapai titik B (tujuan), padahal sejatinya ada banyak jalan yang mungkin diantara mereka ada yang lebih cepat dan tidak memilikii halangan/masalah agar kita juga tidak perlu menghadapi masalah seperti judul dari tulisan ini.


Pertama kita harus menentukan tujuan terlebih dahulu dan bukan sebaliknya. Kita sering menemukan masalah orang lain tanpa tahu tujuan mereka, seperti saat kita mengeluh bila sekolah terlalu banyak teori dan bukan praktik dengan seperangkat argumentasi yang kita miliki, namun sudahkah kita mengetahui apa tujuan dari sekolah?, bisa saja pemerintah memang bertujuan agar sekolah itu cukup untuk menciptakan individu-individu yang kaya teori tanpa keterampilan yang memadai, maka bagi pemerintah sekolah yang "hanya teori" bukanlah masalah karena tujuannya selaras dengan kosekuensi yang terjadi, itu menjadi masalah bagi kita karena kita memiliki tujuan "sekolah" yang berbeda dengan pemerintah, ingat cari tujuan terlebih dahulu sebelum kita memetakan realitas.


Setelah itu kita cari sebanyak-banyaknya informasi dan pengetahuan tentang hal yang menjadi tujuan kita beserta cara untuk mencapai tujuan tersebut, meskipun faktanya mustahil kita tidak menemui masalah dalam mencapai tujuan, tapi ada baiknya kita selalu berusaha berpikir secara strategis dalam mencapai tujuan kita, ambil contoh sebelumnya dimana tujuan "sekolah" kita dan pemerintah berbeda, kita mau sekolah bertujuan menciptakan individu yang tidak hanya kaya teori, namun harus disertai keterampilan praktis. Memang ada cara kita untuk mengubah tujuan "sekolah" pemerintah agar selaras mengikuti tujuan kita, tapi apakah kita punya cukup tenaga, waktu, dan materi untuk melakukan itu?. Jika kita memang ingin mencapai tujuan dari "sekolah" versi kita bukankah ada cara dimana kita mendirikan aktivitas ekstrakulikuler yang mengembangkan keterampilan, atau kita mencoba magang di tempat-tempat yang dapat meningkat keterampilan kita, walau itu sudah keluar dari lingkup "sekolah", tapi jika tujuan kita kaya teori dan keterampilan praktis secara bersamaan, kenapa kita harus menitikberatkan tujuan kita pada sekolah saja, dan tidak melihat potensi diluar lembaga sekolah, uji terus tujuan yang kita miliki apakah itu benar-benar sesuai dengan keinginan kita.


Dan yang terakhir adalah mengeliminasi cara-cara yang kurang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan kita, jangan terpaku pada metode yang berhasil dilakukan di tempat yang kurang relevan dengan apa yang terjadi pada cakupan wilayah peta realitas yang kita miliki, ambil contoh sekolah lagi, kita sering membandingkan hasil karya pendidikan sekolah di Jepang, Eropa, dan amerika. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi sebisa mungkin kita cari negara dengan peta realitas yang lebih mirip dengan kita itu lebih baik. Jika belum paham peta realitas itu apa, peta realitas adalah representasi mental seseorang terhadap kenyataan yang menentukan bagaimana kita melihat kemungkinan (possibility) dan batasan (limitation) dalam mencapai tujuan. Intinya bukan sekadar “apa yang kita tahu”, tapi apa saja yang kita anggap mungkin untuk terjadi. Walaupun mustahil rasanya memiliki peta realitas yang benar-benar sempurna/utuh, karena keterbatasan waktu dan prefrensi kita dalam memilih informasi/pengetahuan yang kita sukai.


Balik ke contoh cinta-cintaan di awal, peta realitas kita realtif sempit jika kita hanya berpikir mendapatkan dia dengan cara langsung nembak, luaskan lagi peta realitas kita dengan memperdalam rasa pertemanan, lebih meningkatkan nilai diri kita, dan mencari momentum yang tepat agar dia bisa benar2 luluh dengan pernyataan cinta kita sehingga kita bisa lebih mungkin mencapai tujuan memiliki orang yang kita cintai.



Terimakasih telah membaca.

Komentar

Postingan Populer