+Potensialisme



Manusia selalu memilih apa yang disajikan kehidupan kepadanya,dan besar kemungkinannya manusia akan memilih yang menurutnya lebih baik dari pilihan yang lainnya,entah potensi buruk yang akan terjadi lebih kecil ataupun kita telah lebih siap untuk menghadapi potensi buruk atas pilihan tersebut,walaupun banyak dari kita yang tidak menyadari atas pentingnya pilihan dalam hidup kita,dan hanya akan menikmati kesenangan semu lalu menyesal seumur hidup.
Lalu bagaimana cara kita berdamai dengan potensi buruk yang bisa terjadi,atau dengan baik menghadapinya.

Potensialisme.
saya tidak tahu jika sudah ada paham dengan penjabaran seperti ini,tapi percayalah jika saya tidak akan berani untuk mengakui pemikiran orang lain,jika sudah ada,ya silahkan ubah saja namanya sesuai dengan orang yang sudah menjabarkannya sebelum saya.

Inti dari potensialisme adalah,paham dimana kita hidup dengan selalu memikirkan potensi,bisa dibilang sintesis antara optimisme dan pesimisme,jadi akan menciptakan runtutan potensi yang akan terjadi,bukan hanya dari sisi negatifnya,tapi positif dan netralnya juga.
Potensialisme dapat bermanfaat di dua kondisi,yaitu kondisi dimana kita ingin objektif atas sesuatu,dan kondisi dimana kita subjektif atas sesuatu,saya akan menjabarkan keduanya menggunakan contoh realita yang terjadi,agar lebih mudah dipahami.

Objektif,kondisi dimana ada sesuatu yang nilainya/kebenarannya belum pasti dan kita ingin menilainya dengan objektif,kita bisa melakukannya dengan tanpa memprasangkakan objek tersebut tentunya agar objektif,tapi ada kondisi dimana objek tersebut tidak bisa memvalidasi kebenarannya,dengan banyak alasan,jadi kita tak mendapat informasi yang akurat,lalu potensialisme bisa digunakan untuk meredam prasangka,dengan memikirkan potensi buruk,baik,dan netral agar kita tidak memutuskan berdasarkan prediksi tanpa data yang lengkap.

Subjektif,misalnya ada seorang pemuda dan kita sebagai orang yang lebih tua melakukan diskusi,kita terbawa emosi karena ilmu yang pemuda tersebut miliki ada dibawah kita,dan argumennya dungu,disitulah potensialisme dapat digunakan,dengan kita berpikir secara subjektif,yaitu berpikir tentang potensi pemuda tersebut,misalnya kita berumur 50 tahun dan pemuda tersebut berumur 20 tahun,secara objektif dia kurang akan ilmu,tapi pikirlah jika potensi yang ada padanya apakah lebih besar daripada kita,atau bahkan bisa kita bimbing agar bisa lebih dari kita,dengan membandingkan diri kita saat berumur 20 tahun dengan pemuda tersebut,jadi rasa kesal itu diganti dengan rasa ikhlas dan rasa ingin membimbing.

Ya,potensialisme saya akui hanyalah fiksi,yang saya harap implikasinya dapat meningkatkan kualitas hidup manusia agar lebih baik.

Terimakasih telah membaca.

Komentar

Postingan Populer