+Kritik atas cara bersosialisasi dalam realitas dan medsos

Manusia sangat senang untuk bersosialisasi,sebagaimana kodratnya sebagai mahluk sosial kita harus bersosialisasi demi menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Tapi banyak hal destruktif yang membuat suasana bersosial menjadi tidak nyaman dan sehat,penulis tidak mengatakan ini sebagai sebuah kesalahan,karena tidak ada kesepakatan universal atau hukum yang menerangkan cara bersosialisasi,beretika,dll,beda orang beda pandangan dalam bersosialisasi,beretika,dll,jadi penulis tidak menyalahkan,penulis hanya anggap itu buruk.

Banyak orang yang menjadikan lingkungan sosial sebagai panggung kehebatannya,mereka menutup kuping atas pendapat orang lain,dan menganggap hanya pendapatnyalah yang benar,menjadikan suasana bersosial sudah seperti suasana ajang pencarian bakat dengan juri yang tidak berbakat,kita selalu gatal untuk menilai orang lain salah atau benar dengan argumen yang kacau,keyakinan yang tak berdasar,dan emosional,seolah olah kita sudah ahli dalam hal tersebut,dan kitalah yang benar.

Itulah kecacatan mental seseorang yang hanya ingin menampakan hal-hal positif dari dirinya,dan mengubur dalam-dalam kebusukannya agar tidak tercium oleh orang lain,agar nantinya dapat menilai orang lain dengan "kepositifannya",yang pada akhirnya menjadikan suasana bersosialisasi "malaikat dengan iblis",bukan sesama manusia yang sama-sama berbuat keliru dan ingin mencari kebenaran bukan ingin terlihat benar.

"Jadi anti kritik dong???...",bukannya begitu,yang penulis fokuskan adalah bagaimana cara kita mengemas kritik tersebut agar orang-orang pun dengan senang hati menerima kritikan kita,maupun nasihat kita tanpa rasa emosional yang mengacaukan kerasionalan kita untuk mengkritik dan memberi nasihat,dan ujung-ujungnya hanya merendahkan saja,"saya lebih baik dari kamu,jadi kamu salah saya yang benar",suasana bersosial tidak menyenangkan dan mengasyikan lagi jika kita tetap menganggap lingkungan sosial sebagai tempat kita unjuk gigi atas kehebatan kita,itulah kenapa jangan ciptakan suasana "malaikat dengan iblis",tapi manusia dengan manusia,itulah yang seharusnya terjadi.

Ditambah lagi dengan ilusi media sosial yang membuat kita menilai seseorang sebagai "gambar", "vidio","kata-kata"(objek),bukan sebagai manusia,yang tentunya menjadi bibit kebodohan di masyarakat,karena naiknya probabilitas seseorang menjadi pembenci,mereka merasa tidak apa-apa untuk membeci orang tersebut,"gabakal diapa-apain kok...",jadi orang lebih berani untuk mengeluarkan kata-kata kasar tanpa adanya argumen dan solusi yang diberikan,"goblok lu!!", "anjing lu","Tolol!!!","mati aja lu","ngewe yuk",itulah komentar-komentar para rakyat di internet,yang penulis yakin jika dalam realitas mereka tidak akan berani untuk berkata seperti itu karena balik lagi yang didepan mereka hanya ada gambar,vidio,kata-kata,bukan manusia.

Lalu,walaupun diluar dari pembahasan tetapi penulis merasa tidak enak jika hanya mengkritisi tanpa memberikan solusi,"jadi bagaimana agar saya tidak menjadi orang-orang yang dikritisi oleh penulis diatas?".

Jika kita tersinggung,marah,kesal,kecewa,dll atas kesalahan atau keburukan orang lain kitalah yang salah.ya mereka belaku salah dan buruk itu satu hal,tetapi kita tersinggung,marah,kecewa,dll atas kesalahan/keburukan orang itu adalah hal lain,jangan menanggapi kesalahan mereka dengan kemarahan,tersinggung,dll,yang ujung-ujungnya kita menjadi orang yang menciptakan suasana "malaikat dengan iblis",buka sesama manusia yang saling berbuat salah/mencari kebenaran,jadi pikirkan baik-baik,cari solusi untuk menyelsaikan masalah,sampaikan dengan tanpa rasa membodohkan dan emosional.

Lalu solusi untuk bersosial dimedsos yang hanya menganggap orang sebagai gambar,vidio,dan kata-kata yaitu,ya jangan dilakukan,simple bukan?,anggap mereka manusia juga,anggap misalkan itu orang tua anda yang dibilang goblok,disumpah serapah agar mati,apa yang anda lakukan?,tetap konsisten dengan sikap pembenci anda,yaitu ikut membenci orang tua yang serumah dengan anda,mengatakan goblok,dan menyumpahinya untuk mati didepan mukanya?,silahkan pikirkan jika orang yang anda sumpah serapahi ada didepan anda,masih berani???.


Jika ada yang tidak sepakat dengan penulis dikarenakan lingkungan dan individu yang bersosialisasi dengan kalian bertentangan dengan pemikiran penulis,tapi dampaknya positif ya silahkan saja dilanjutkan untuk menjadi tetap seperti itu(walaupun penulis yakin mustahil,wkwkw),penulis hanya ingin berbagi pemikiran,penulis tidak peduli jika tulisan ini diterima atau tidak,diikuti atau tidak,"hidup,hidup elu,terserah elu".

Terimakasih telah membaca.



Komentar

Postingan Populer