# Orang Tua Yang Durharka

Gelegar suara petir memecahkan keheningan dan menerangi sebagian ruangan keluarga dari jendela yang kacannya dipenuhi butiran air dengan bingkai kayu coklat tua yang memiliki banyak lubang akibat rayap yang bersarang dan beranak pinak didalamnnya, entah berasal dari sekitar rumah atau sudah ada sedari waktu pertamakali sang ayah membeli kayu itu dari sahabat lama yang ditemui dari kehidupan jalanannya, menggowes becak butut dengan rumbai-rumbai biru menyala di joknnya untuk menafkahi keluarga, dengan itu pula ia membawa kayu itu, walaupun terheran entah darimana kayu tersebut didapatkan, sang ayah tidak pernah bertanya dan sekedar percaya bahwa sahabatnya memberikan kayu terbaik yang bisa dipasang sebagai bingkai jendela rumahnnya.

Zuan melihat bingkai jendela itu semakin lembab dan diikuti dengan tembok bercat putih yang warnannya lebih gelap disekitar bingkai coklat tua jendela ruang keluargannya, dia terus melirikan mata dengan kepala kosong yang tertunduk dengan rasa tidak adil sambil terbungkam karena paham tiada akhir yang baik dari melawan.
"ZUAN!! "
Dipanggilnnya ia oleh sang ayah yang dipenuhi kerutan di dahinnya, hidung besarnnya semakin terlihat jelek sebab lubang yang menganga sangat besar untuk menggapai oksigen di ruangan itu dengan tergesa-gesa, bibirnnya yang panjang namun kurus juga sama besarnnya terbuka seraya berbicara yang sebagian katannya tidak diketahui karena diganggu oleh teriakan petir di langit, mungkin itu adalah Dewa Zeus dari gim yang tadi pagi ia mainkan di tempat rental dekat komplek perumahan tentara angkatan darat yang sedang cari perhatian diatas rumahnnya, mengajaknnya untuk bermain lagi besok pagi meninggalkan kegiatan belajar membosankan di sekolahnya, mulut sang ayah semakin membesar, hanya itu yang Zuan lihat, membuat Zuan bertannya bisakah siku tangannya masuk kedalam mulut ayahnnya itu.
"ZUAN!!! "
Panggilan kedua kali untuknnya, Zuan tersentak sadar dan melihat wajah yang menjadi asal suara panggilan itu seutuhnya, tidak seperti Dewa Zeus yang berwibawa dan berkuasa dengan mata biru-nya, janggut serta rambut putih yang lebat, badan yang kekar dan juga tinggi, sebaliknnya, Zuan melihat mata yang hitam pekat dengan ular kecil hitam melata kabur dari bagian sebelah kanan mata itu, lebih luas lagi zuan memandang, semakin banyak bentuk yang memenuhi badan kurus orang itu, berbeda dari kelainan kulit yang dimiliki teman sekolahnnya, bentuk itu mencoba menjelaskan sesuatu, beberapa pola dan bentuk Zuan memahaminnya, namun banyak yang tidak ada sama sekali dalam wawasannnya, sosok itu lebih seperti mahluk jahat yang ia basmi pada gim yang ia mainkan, dengan itu ia tersadar bahwa ia bukanlah anak dari seorang dewa olimpus.

Mata Zuan yang kecewa penuh remeh tersampaikan dengan baik kepada pria dewasa yang sedang memarahinnya, seperti lubang hitam yang mengisap, sang ayah kehilangan semestannya di depan mata mungil yang indah berwarna kecoklatan saat ia dilahirkan, namun kini semakin besar, menghitam dan terasa amat dalam, mata itu melihat pakaian, tubuh, darah, segala organ, hingga tulang belulang yang terikat untaian otot-otot kurus dan rapuh miliknnya. Amarah yang meledak-ledak itu berubah seketika menjadi perasaan hina, nista, begitu rendah dalam kegelisahan. Dahinnya menangis gugup sebab Zuan berusaha merobek setiap lapisan dirinnya, manusia menggadaikan hidupnnya pada sesuatu, upacara pernikahan adalah hal yang menyenangkan, namun setelahnnya dan seterusnnya adalah neraka pikir sang ayah.

Disamping itu, Zuan masih terus bergumam di dalam pikirannya,
"Memang sedemikiannnya temanku berkata bahwa wanita tidak tertarik dengan seorang pria baik, tapi apakah seorang iblis dapat masuk dalam kategori yang menarik?",
Dalam hal ini Zuan dan sang ayah memiliki kesamaan paham bila sang ayah adalah penghuni neraka.

Sang ayah yang gugup beralih sekilas melihat jendela dan tembok rumahnnya yang mungkin sebentar lagi akan hancur dan membuat lubang besar di ruangan keluargannya, jika dilihat dengan seksama, air yang merembes tembok ruangan keluargannya itu berasal dari langit-langit rumahnnya karena gelapnnya tembok yang ada disekitar jendela hingga memuncak keatas, air yang merembes menggenangi ubin ruangan itu semakin menininggi sampai-sampai menjangkau mata kaki sang ayah dan Zuan. Walaupun air telah membanjiri ruangan keluarga, Zuan dan sang ayah tidak membahas terkait itu, mereka berdua sudah tenggelam didalam pikiran, yang membuat genangan air di mata kaki menjadi tidak begitu berarti.

"DUAAARRRRR"
Suara petir yang menyambar atap rumah yang meruntuhkan atap dan langit-langit ruangan itu, diikuti dengan hembusan angin dingin mencekik yang berbondong-bondong masuk dan menggapai setiap sudut rumah itu sambil menggetarkan setiap vas-vas cantik tua yang dikoleksi sang ibu sebagai hobi dan kesenangan pribadi, kembali ke ruangan keluarga, Zuan sedang terkapar tak berdaya setengah sadar, entah mengapa nafasnnya begitu sulit dan lengan kanannya yang kurus dan kecil terasa sangat sakit, dengan terbata-bata Zuan melihat wajah sang ayah dan meminta pertolongan, namun di mata sang ayah yang ada didepannya bukanlah penderitaan, melainkan awal dari kebahagiaan ketika sebuah lubang hitam itu hancur karena tertimpa kepingan plavon dan bebatuan rumahnnya. Zuan merasa dunia ini sudah berakhir untuknnya dengan melihat iblis jantan itu tersenyum canggung gugup tipis di depannya, sambil terus meminta pertolongan, pikiran Zuan dipenuhi perasaan bila memanglah benar bahwa ia adalah anak seorang dewa olimpus, tidak mungkin baginnya ada seorang ayah tersenyum atas penderitaan anaknnya, Zuan percaya ia diculik iblis ini agar dapat mengancam ayahnnya yang seorang dewa olimpus, atau mungkin Zuan adalah anak yang dipilih ramalan yang akan membawa kehancuran bagi iblis didepannya serta seluruh ras-nya. Sakit dan nyeri yang Zuan rasakan tidak berkepanjangan sebab kantuk mulai menggerogoti matannya, seperti sirkulasi sang bulan di langit malam, mata yang purnama itu menjadi setengah, membentuk sabit, dan kini hampir meghilang.
"BLAAKKK"
Dari bagian depan rumah terdengar sebuah hentakan, diikuti setelahnnya sepatu ber-sol keras yang dapat diketahui dari suarannya yang melangkahi ubin-ubin kekuningan dengan uratan-uratan yang membuatnnya terasa alami dengan cepat, semakin dekat suara langkah sepatu itu dari sang ayah, muncul seorang perempuan yang membuat sang ayah tersentak berlari ke arah Zuan dan menyingkirkan setiap bebatuan dan kepingan plavon yang menumpuk membebani Zuan, setelah bebas dari tertindih beban, perempuan itu langsung mengangkat Zuan dan berlari membawannya keluar rumah, sang ayah hanya melihat kepergian perempuan itu diikuti suara mesin mobil dari depan rumahnnya dengan perasaan yang menusuk bahu dan kemaluannya. Perasaan itu menjadi semakin parah ketika sang ayah melihat Zuan kembali beberapa hari kemudian dengan balutan kain putih yang menopang tangan kanannnya, sang ayah berdiri kaku ditempat yang sama, dan mereka (Zuan dan sang ayah) sama-sama bersependapat, bila meskipun lubang di atap ruangan keluargannya sudah ditutup, dan tidak ada air yang merembes lagi di sekitar jendela, namun akan selalu ada lubang besar mengaga dan genangan air yang sangat kotor di ruangan keluargannya.

Komentar

Postingan Populer