+ Tua dan Alim
Semakin tua maka semakin bijak, bahagia, dan lebih banyak membahas kehidupan akhirat merupakan kondisi alamiah. Inilah hipotesis yang saya ajukan karena bagi saya peristiwa ini bukanlah suatu kehebatan/keistimewaan. Terpampang jelas bahwa peristiwa ini terulang dengan frekuensi yang intensif dan tereplikasi pada banyak individu, maka sudah pasti ada keadaan alamiah yang terjadi ketika seseorang menjadi semakin tua secara simultan menjadi semakin alim serta bijak.
Ada 4 alternatif variabel yang sangat mungkin bertumpang-tindih berkontribusi dalam peristiwa ini,
1. Kimiawi
dimana penurunan kadar testosteron dapat mempengaruhi beberapa aspek kognitif dan emosional, yang pada gilirannya mungkin berkontribusi pada pola kearifan seiring bertambahnya usia, berikut sumber pendukungnnya :
1. Penelitian oleh Dabbs et al. (1995): Penelitian ini menunjukkan bahwa kadar testosteron yang lebih tinggi pada pria dewasa berhubungan dengan tingkat agresi yang lebih tinggi.
2. Penelitian oleh Apicella et al. (2008): Studi ini menunjukkan bahwa kadar testosteron yang lebih tinggi pada pria berhubungan dengan peningkatan kecenderungan untuk mengambil risiko.
3. Penelitian oleh Carré et al. (2009): Penelitian ini mengungkapkan bahwa testosteron dapat mempengaruhi kepercayaan diri.
Juga pernah dilaporkan dimana obat Donepezil yang merupakan salah satu obat yang umum digunakan untuk mengobati penyakit Alzheimer. Beberapa studi melaporkan bahwa obat ini dapat mempengaruhi kadar hormon dan menyebabkan efek samping seperti peningkatan kadar testosteron. Peningkatan testosteron ini bisa mempengaruhi perilaku, termasuk peningkatan dorongan seksual atau perubahan dalam perilaku genit. Sementara wanita juga mengalami perubahan, terutama setelah menopause. Namun, pengalaman individu dapat bervariasi, dan faktor-faktor seperti kesehatan, hubungan, dan sikap pribadi terhadap seksualitas memainkan peran penting dalam menentukan dorongan seksual di usia lanjut, maka secara pola wanita lebih variatif dimana estrogen yang lebih memiliki peran untuk mengembangkan karakter mereka sebagai gender, berikut sumber penduduknya :
1. Studi oleh Laumann et al. (2005): Penelitian ini menunjukkan bahwa libido wanita cenderung menurun setelah menopause. Perubahan hormon seperti penurunan estrogen dapat mempengaruhi dorongan seksual dan minat dalam aktivitas seksual
2. Studi oleh Shifren et al. (2008): Penelitian ini mengamati bahwa wanita setelah menopause sering kali melaporkan perubahan dalam sikap dan kepuasan seksual. Beberapa wanita mungkin mengalami penurunan minat seksual, sementara yang lain mungkin mengalami peningkatan kepuasan seksual dalam konteks yang berbeda.
3. Studi oleh Hsu et al. (2013): Penelitian ini menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, banyak wanita mengalami perubahan dalam pandangan mereka terhadap seksualitas. Kearifan dan perspektif yang lebih matang sering kali dikaitkan dengan pengalaman hidup dan perubahan dalam prioritas emosional dan sosial.
2. Fisiologis
Faktor fisiologis berhubungan dengan perubahan fisik dan biologi yang terjadi seiring bertambahnya usia, yang dapat mempengaruhi kognisi dan emosi seseorang.
Penelitian oleh Salat et al. (2004): Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat penurunan volume otak pada orang tua, area otak tertentu yang terlibat dalam pemrosesan pengalaman hidup dan pengetahuan sering kali tetap aktif. Hal ini dapat mendukung peningkatan kemampuan untuk membuat keputusan bijak.
Penelitian oleh Raz et al. (2005): Penelitian ini menunjukkan bahwa penurunan dalam beberapa aspek fungsi kognitif pada usia tua, seperti kecepatan pemrosesan informasi, tidak selalu berhubungan dengan penurunan kualitas kognitif secara keseluruhan. Pengalaman hidup dapat meningkatkan kemampuan untuk mempertimbangkan informasi dengan cara yang lebih reflektif.
Penelitian oleh Nyberg et al. (2010): Penelitian ini mengungkapkan bahwa keterlibatan dalam aktivitas mental yang teratur dan sosial dapat membantu menjaga dan bahkan meningkatkan fungsi kognitif pada usia lanjut. Aktivitas seperti pembelajaran seumur hidup dan keterlibatan sosial dapat berkontribusi pada peningkatan kearifan.
3. Evolusioner
Variabel evolusioner mencakup faktor-faktor yang berkaitan dengan bagaimana proses evolusi dan seleksi alam telah membentuk kecenderungan manusia untuk mengembangkan kearifan seiring bertambahnya usia.
Penelitian oleh Baltes & Baltes (1990): Teori seleksi sosial dan kecakapan (socioemotional selectivity theory) menunjukkan bahwa seiring bertambahnya usia, individu cenderung lebih fokus pada hubungan emosional yang berarti dan mengurangi keterlibatan dalam aktivitas yang dianggap kurang signifikan. Ini dapat berkontribusi pada peningkatan kearifan karena orang tua lebih selektif dalam bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka dan dengan siapa mereka berinteraksi.
Penelitian oleh Glück & Bluck (2007): Studi ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup yang luas dan refleksi mendalam tentang makna hidup dapat meningkatkan kearifan, karena individu yang lebih tua sering kali memiliki kesempatan lebih banyak untuk merenung dan belajar dari pengalaman hidup mereka.
Penelitian oleh Carstensen et al. (2011): Penelitian ini mendukung gagasan bahwa orang tua cenderung mengembangkan pandangan dunia yang lebih menyeluruh dan bijaksana sebagai hasil dari akumulasi pengalaman hidup dan perubahan dalam prioritas emosional.
4. Sosiologis
Aspek sosiologis mencakup bagaimana norma sosial, nilai, dan peran sosial mempengaruhi kearifan orang tua dalam masyarakat tertentu.
Penelitian oleh Kempt et al. (2003): Studi ini menunjukkan bahwa di banyak masyarakat, orang yang lebih tua sering dianggap sebagai sumber kebijaksanaan dan pengetahuan. Normatif sosial ini memperkuat peran mereka sebagai penasihat dan pembimbing, yang dapat memperkuat persepsi kearifan mereka.
Penelitian oleh Cavanaugh et al. (2006): Penelitian ini mengungkapkan bahwa pengalaman hidup yang luas dan berbagai peran sosial yang dimainkan sepanjang hidup dapat membentuk pandangan dunia individu dan meningkatkan kearifan. Lingkungan sosial yang mendukung penghargaan terhadap pengalaman hidup sering kali memperkuat pola ini.
Penelitian oleh Cuddy et al. (2011): Penelitian ini menunjukkan bahwa stereotip sosial mengenai orang tua sebagai bijaksana dan berpengetahuan dapat mempengaruhi bagaimana orang tua memandang diri mereka sendiri dan berperilaku. Ini dapat mendorong mereka untuk lebih aktif dalam peran sebagai penasihat dan pembimbing dalam komunitas mereka, sehingga meningkatkan kearifan yang mereka tunjukkan.
Jadi tidak perlu berbangga diri apabila kita menjadi tua lalu menurunkan "nafsu duniawi" kita. Karena itu hanyalah sebuah keadaan yang niscaya bagi metabolisme dan tekanan sosial individu ketika mereka menua akan didorong menuju "kealiman, kebijaksanaan, dan kebahagiaan". Hal ini memberikan sedikit perspektif kebahagiaan pada kita dimana mungkin saja kita bahagia bukan karena kita keluar dari zona nyaman, mendapatkan ini-itu, dlsb. Simple saja mungkin kita hanya menua.
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar