+ Laki-Laki Adalah Korban Sistem Patriarki
Patriarki secara tradisional dipahami sebagai sistem sosial di mana laki-laki memegang kekuasaan dominan dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak sosial, dan kontrol properti. Namun, tidak populer untuk menyatakan bahwa laki-laki juga dapat menjadi korban dalam sistem ini, terperangkap dalam ekspektasi dan peran sosial yang ketat. Fenomena ini, ditambah dengan kecenderungan cherry picking oleh sebagian yang menuntut kesetaraan dengan menuntut aspek "baiknnya" saja (contoh simpel : ingin mendapatkan kesempatan profesi yang sama, namun tidak ingin membayar tagihan sewaktu kencan) menciptakan dinamika yang kompleks antara kedua gender. Tapi tetap, bagi mayoritas laki-laki menjadi perempuan bukanlah status yang nyaman, dan sebaliknnya-pun, bagi perempuan menjadi laki-laki bukanlah status yang nyaman juga, apakah ada penjelasan ilmiah yang mendasarinya?.
Dalam sistem patriarki, laki-laki diharapkan memainkan peran tertentu yang sering kali menempatkan mereka dalam posisi superior secara struktural. Namun, posisi superior ini sering datang dengan harga yang mahal. Ada ekspektasi sosial untuk menjadi penyedia, pelindung, dan individu yang kuat secara emosional. Laki-laki yang tidak sesuai dengan standar ini sering kali dianggap gagal secara sosial, mengalami stigma, atau merasa kehilangan jati diri.
Fenomena ini bisa dilihat sebagai bentuk penindasan tersembunyi, di mana laki-laki terpaksa menanggung beban sosial yang mungkin tidak mereka pilih. Mereka jarang mendapatkan kebebasan untuk menunjukkan emosi secara terbuka atau mengambil peran yang dianggap "lemah", seperti merawat anak atau menjalankan tugas rumah tangga. Hal ini menyebabkan banyak laki-laki hidup dalam tekanan untuk memenuhi ekspektasi yang dikonstruksi oleh sistem patriarki itu sendiri.
Penulis seperti Bell Hooks berargumen bahwa patriarki tidak hanya merugikan perempuan, tetapi juga laki-laki. Hooks menyebut bahwa banyak laki-laki yang menjalani hidup dalam ketakutan akan kelemahan dan kebutuhannya untuk terus menjadi yang terkuat, yang merupakan ciri khas dari apa yang disebut sebagai "toxic masculinity". Ini adalah jenis maskulinitas yang melanggengkan gagasan bahwa menjadi laki-laki berarti kuat, tidak emosional, dan selalu dominan. Pada akhirnya, patriarki menekan manusia secara kolektif, bukan hanya satu gender saja.
Cherry picking dalam konteks ini mengacu pada kecenderungan beberapa penuntut memilih aspek-aspek tertentu dari peran budaya laki-laki yang dianggap menguntungkan semata, sementara menolak atau melewatkan aspek lainnya yang dianggap merugikan. Contoh sederhananya adalah mereka yang menuntut kesetaraan ekonomi, tetapi dalam konteks relasi, masih mengharapkan laki-laki untuk memainkan peran tradisional sebagai penyedia.
Fenomena ini menciptakan ketidakseimbangan dalam wacana tentang kesetaraan gender, karena ada bagian dari peran patriarkal yang masih dianggap menguntungkan atau diinginkan dalam konteks tertentu. Laki-laki yang ingin mematahkan ekspektasi tradisional sering kali dihadapkan pada kebingungan sosial, karena sementara mereka dipuji atas kemajuan kesetaraan, mereka juga diharapkan mempertahankan peran tradisional dalam beberapa konteks.
Di sisi lain, hal ini tidak berarti bahwa perempuan secara inheren bertindak manipulatif. Cherry picking juga bisa dianggap sebagai bagian dari adaptasi terhadap sistem yang masih mengakar kuat. Dalam beberapa kasus, perempuan mungkin berupaya memperjuangkan hak yang lebih setara, namun merasa terjebak dalam kebimbangan sistem yang masih mengakar pada peran gender tradisional yang terstruktur panjang selama proses evolusioner.
Untuk menjawab mengapa laki-laki tidak ingin menjadi perempuan dan sebaliknya, kita perlu melihat fenomena ini melalui berbagai lensa, termasuk biologis, psikologis, dan sosial.
Secara biologis, perbedaan hormon antara laki-laki dan perempuan menciptakan ciri-ciri fisik dan psikologis yang berbeda. Testosteron yang lebih dominan pada laki-laki, berkaitan dengan peningkatan agresi, dominasi, dan dorongan seksual, sementara estrogen, yang lebih dominan pada perempuan, berhubungan dengan nurturing (memelihara) dan stabilitas emosional. Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan hormon ini mempengaruhi perilaku dan preferensi sosial. Laki-laki dan perempuan cenderung mengidentifikasi diri dengan peran gender yang sesuai dengan profil hormonal mereka, meskipun tentu saja terdapat variabilitas individu.
Dari perspektif psikologis, identifikasi gender adalah bagian besar dari pembentukan identitas diri. Sosialisasi yang dimulai sejak dini membentuk persepsi tentang apa artinya menjadi laki-laki atau perempuan. Sejak kecil, anak-anak didorong untuk menyesuaikan diri dengan norma gender tertentu, yang memperkuat perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan. Perempuan diharapkan lebih peduli dan emosional, sementara laki-laki diarahkan menjadi kompetitif dan mandiri.
Ada pula penjelasan evolusioner untuk perbedaan ini. Teori investasi orang tua (Parental Investment Theory) menyatakan bahwa karena perempuan berinvestasi lebih banyak dalam reproduksi (misalnya kehamilan dan menyusui), mereka cenderung mengembangkan sifat-sifat nurturing, sementara laki-laki, yang investasinya dalam reproduksi lebih rendah, lebih termotivasi untuk bersaing demi pasangan yang berkualitas. Meskipun pada masa post-modern ini perubahan budaya semakin meningkat akselerasinnya dalam membentuk perilaku gender.
Dari faktor-faktor diatas terbentuklah identitas diri yang membuat banyak individu merasa nyaman dengan identitas gender mereka, baik laki-laki maupun perempuan, yang mencakup pengalaman sosial, budaya, dan psikologis yang mengkonstruksi makna gender tersebut, dan mungkin karena sudah terbiasa di dianggap normal maka wajar bila seorang laki-laki tidak ingin menjadi perempuan dan sebaliknnya karena itu merupakan "hal yang asing/baru" bagi mereka.
Meskipun tidak dapat dibantah, bahwa ada yang ingin menukarkan gendernnya, namun itu merupakan minoritas dan dapat dibaca pada tulisan saya sebelumnnya yang membahas "kenapa banci lebih banyak daripada tomboy?". Saya pribadi tidak mempermasalahkan orientasi seksual seseorang (LGB...), namun untuk transgender (T) saya menentang keras untuk didukung atau dibiarkan.
Penjelasan biologis dan sosial membantu kita memahami mengapa preferensi gender tetap kuat, dan mengapa resistensi terhadap perubahan peran gender begitu signifikan. Pada akhirnya, perjuangan untuk kesetaraan gender perlu melibatkan pemahaman bahwa sistem patriarki adalah sistem yang menekan seluruh masyarakat, bukan hanya perempuan. Reformasi sosial harus mempertimbangkan kepentingan semua gender, maka tidak seharusnnya muncul kebencian pada laki-laki, yang merupakan strategi bodoh dalam melakukan perubahan sosial dalam konteks membina kesetaraan.
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar