+Lakukan sesuatu!
Do something!,JUST DO IT!!,learning by doing,dari kalimat ini banyak yang menarik kesimpulan bahwa tindakan adalah hal yang diutamakan dibandingkan ide/pemikiran,dan saya tidak setuju dengan hal tersebut,bukan secara maksud,melainkan konsep dan definisinya.
"Lakukan sesuatu" apakah lebih penting dari "pikirkan sesuatu",atau "memikirkan sesuatu" adalah bentuk "melakukan sesuatu"?,
saya akan coba jabarkan semudah mungkin sebisa saya,jika ada pertanyaan silahkan berkomentar.
"Lakukan sesuatu" adalah sebuah istilah yang mungkin digunakan pada individu lain yang takut/berhati-hati dalam berkeputusan,dan tentunya orang yang pantas berkata demikian adalah para individu yang hidupnya memegang prinsip "lakukan sesuatu",dan ini menjadi sebuah kepercayaan umum bila "pengalaman" lebih baik dibandingkan "pemikiran",yang seolah-olah menjadikan "berpikir" dan "berlaku" adalah dua hal yang berbeda,dan bertentangan(dibeberapa pihak),yang jelas-jelas "perilaku" dan "pengalaman" adalah hal yang berbeda,tapi saya akan coba tabrakan "lakukan sesuatu" dengan "pikirkan sesuatu" yang saya harap menemukan sesuatu yang lebih baik.
Pertama mari kita anggap bahwa berlaku dan berpikir adalah dua hal yang berbeda,berlaku adalah praktik yang hasilnya merupakan "pengalaman",dan berpikir adalah kognisi yang hasilnya merupakan "pemikiran",tapi apakah "pemikiran" bisa muncul tanpa adanya "pengalaman"?,atau apakah "pengalaman" bisa muncul tanpa adanya "pemikiran" bahwa saya mengalaminya,jika itu pengalaman baik akan saya lanjutkan/bagi,jika itu pengalaman buruk akan saya perbaiki,bukankah begitu proses seseorang yang berpikir atau mengalami?,jika iya berarti memang pengalaman dan pemikiran adalah berbeda,namun perbedaan itu hanya sebatas tempatnya sebab atau akibat,pengalaman dapat mengakibatkan pemikiran,dan pemikiran dapat mengakibatkan pengalaman,oleh karena itu maksud dari "lakukan sesuatu" seharusnya tidak melarang orang "berpikir sesuatu",karena kita butuh kedua hal tersebut dengan porsi yang proporsional,dan objek perkataan "lakukan sesuatu" seharusnya adalah individu yang tidak "berlaku" dan tidak "berpikir",karena pengalaman dan pemikiran itu saling berhubungan .
Akan tetapi menurut saya "berpikir sesuatu" menjadi lebih penting,karena faktor utama pengalaman adalah hasil dari kita berpikir bukan berlaku,jika kita melakukan sesuatu dan gagal,lalu kita tidak berpikir,kelakuan itu hanya akan menjadi "perilaku" bukan "pengalaman",dan "berpikir" tidak perlu "berlaku" untuk bisa mendapat "pengalaman",jadi berlaku menghasilkan pengalaman itu salah,yang benar adalah berlaku menghasilkan perilaku(argumen paragraf sebelumnya dibatalkan).
Oleh karena itu coba kita masuk sudut pandang bahwa "lakukan sesuatu" dan "pikirkan sesuatu" itu sama,karena "berpikir" adalah bagian dari bentuk "berlaku",jadi kalimat yang seharusnya mungkin "praktikan sesuatu",yang mana perbedaannya adalah "pemikiran" dan "penerapan" yang bagi saya tentu berbeda,oleh karenanya maksud para motivator itu menurut saya adalah bukan menyuruh kita untuk "berani",melainkan untuk nekat,yaitu melakukan sesuatu tanpa memikirkan apapun tentangnya,dan bagi saya adalah asal jika kita bilang kepada seseorang untuk "lakukan sesuatu" yang berarti ia tidak melakukan apapun,dan tidak ada orang yang sehat,normal,dan hidup yang tidak melakukan apapun,karena tidur-pun termasuk melakukan sesuatu,bahkan menonton tv dari pagi hingga malam termasuk melakukan sesuatu.
Namun bila maksud dari berlaku adalah berpikir dan menerapkannya,itu adalah keberanian,dan mustahil kita dapat menerapkan sesuatu yang tak pernah kita pikirkan,itu namanya spontanitas,dan jika yang dimaksud adalah spontanitas atau kalimat prosanya "ikuti kata hatimu" itu namanya "kenekatan",tapi jika kenekatan diikuti dengan pemikiran,maka akan menjadi pengalaman,dan jika kenekatan itu tidak diikuti oleh pemikiran maka hanya akan menjadi kebodohan yang berkelanjutan.
Jadi daripada kita berkata "lakukan sesuatu" lebih baik kita berkata "terapkan sesuatu" atau "pikirkan sesuatu" atau "alami sesuatu",yang hasilnya jelas merupakan pengalaman dan bukan kebodohan yang berkelanjutan.
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar