# Berharap Pada Sang Kematian

Senja tidak selalu jingga, seperti hari ini senja berwarna hitam pekat dikarenakan hujan lebat sedari kemarin di Desa Kesambi, Kota Cirebon. Kayu yang basah membuat hati tak dapat membara, remang-remang suasana menggoda rangsang bersantai dan bermalas-malasan. Para ibu merasa resah dengan cucian rumahnya yang tak kunjung kering, dan ada pula yang sedang resah akan keberadaan anaknya di tempat lain.

Pada saat itu Layla yang linglung sedang duduk tak nyaman di kereta ekonomi jurusan Jakarta-Cirebon, rasa penat di pinggul dan punggungnya disemangati suasana pulang ke kampung halaman. Teriknya matahari diikuti dengan tajamnya mata orang-orang di jalanan Jakarta membuat Layla merasa dapat ditusuk maupun dipenggal kapan saja. Berlimpahnya kilatan-kilatan merah bak permata delima memaksa ia menekan sifat linglungnya. Garis-garis putih penyebrangan sekedar diresapi sebagai lukisan, namun ia malah bersyukur dengan wajah buruk rupanya. Pipi kurus, hidung yang sedikit terlalu besar, dan dahi yang sedari kecil dikatakan teman-temannya dapat menjadi sebuah landasan helikopter. Tubuhnya pun relatif tidak menggoda, hanya untuk itu dan hanya di tempat itu ia bersyukur, setidaknnya mata-mata setajam parang itu tidak terlalu menghiraukan dirinya.
Tetap berusaha memikirkan hal-hal yang menenangkan pada perjalanan yang jemu. Melayang-layang memikirkan masa kecil Layla di Desa, bermain di sawah bersama teman-teman yang meneriakinnya di teras sebagai rutinitas, tawa dan riang di bawah sinar matahari yang agak terlalu hangat menyerbak dengan basahnnya baju layla akibat kelenjar keringat yang mencoba mendinginkan. Segala-galanya terasa begitu jauh dan hampir tak nyata di hati kecil yang kegelisahan, rindu akan kampung halaman semakin membesar lebih dari besarnnya tubuh Layla.
Kereta berhenti di setiap stasiun, makin lama makin mendekati tujuannya. Layla mulai melihat pemandangan yang lebih akrab di luar jendela, bergerak cepat rumah-rumah dengan dinding bambu, pohon-pohon kelapa yang menjulang tinggi, dan anak-anak yang bermain dengan ceria. Ada kehangatan yang merayap masuk ke hatinya, memberi sedikit kenyamanan di tengah kegelisahan dan melambatkan momentum.
Namun, sesampainya di stasiun terakhir, suasana hati Layla kembali muram. Hujan masih mengguyur deras, dan langit terlihat semakin gelap. Ia berjalan cepat menuju rumah sang ibu, sambil menenteng sepatu, melangkah  beriringan dengan gemericik air kecoklatan dan kilatan petir yang menerangi langit sesaat lalu dipantulkan kubangan-kubangan yang merendam kakinnya.
Di rumah, ibu Layla sedang menunggu dengan cemas. Pelukan menyambut Layla yang kebasahan, dalam sejenak rasa  hangat melingkupinya. suasana hati yang berat menyusul upacara tersebut. Layla merasa ada sesuatu tidak baik akan tiba, seperti insting seekor mangsa yang diintai bayang-bayang dari kegelapan.
Malam itu, begitu sukarnnya untuk tertidur. Petir dan guntur terus bersahutan memaki dan menghujat, melihat keluar dari jendela persegi panjang berbingkai krem, mata layla yang coklat semacam kubangan sore tadi menyaksikan sebuah bintang yang jatuh, waktunnya membuat sebuah harapan pikir Layla. mencekamnnya malam jadi kosong disaat layla mengepalkan kedua tangannya di depan buah dadannya sambil bersenandung doa dan harapan kepada bintang jatuh yang maha kuasa. Dahinnya mengerut seperti ombak di tengah lautan disertai kedutan mata kirinnya yang berkepanjangan.
Lalu tiba-tiba, bumi bergetar hebat. Suara gemuruh menggelegar memenuhi udara, disertai cahaya terang yang menyilaukan. Layla bangkit dari ketenangannya dengan jantung berdebar kencang.
Ia berlari keluar rumah, telapak kaki yang menapak kayu terdengar begitu kencang hingga membuat Layla tak dapat memfokuskan pikiran, diikuti oleh ibunya yang juga terkejut. Di luar, orang-orang mulai berteriak dan panik. Di langit, sebuah bola api besar meluncur cepat menuju mereka, semakin mendekat dengan kecepatan tak terlihat menyenangkan. Layla hanya bisa memandang tak percaya, tubuhnya membeku oleh ketakutan.
Layla merasakan derasnnya gelombang kejut, pandangannya menjadi kabur sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap diatas asinnya batu berapi itu. Menghantam Desa Kesambi dengan kekuatan dahsyat. Ledakan besar mengguncang seluruh desa, menyebabkan kehancuran seketika.  Desa Kesambi yang dulu dikenal sudah hilang, digantikan oleh puing-puing dan api yang berkobar. Segalannya lenyap dalam sekejap mata. Tubuh layla yang buruk rupa menjadi semakin buruk dan menyedihkan perawakannya, tersisa lengan dan jari-jari gendut yang dikelupas perlahan oleh api. Mungkin ditempat lain ada yang berharap agar turunnya sang bintang yang maha kuasa di Desa Kesambi.

Terimakasih telah membaca.

Komentar

Postingan Populer