+Gelar subjektif kepada individu
Kita menggelarkan gelar-gelar kepada individu yang pantas mendapatkan gelar tersebut,tapi beberapa gelar memang bisa ditaksir secara objektif validitasnya,entah karena kualifikasinya jelas untuk menyandang gelar tersebut ,atau mungkin gelar yang turun menurun diturunkan,dan itu bisa diterima.
Tetapi ada gelar-gelar subjektif yang menurut pendapat saya menentang kodrat dari individu yang diberi gelar tersebut,seperti,orang baik,orang pintar,orang bijak,orang jahat,dsb.
Gelar-gelar tersebut diberikan kepada individu ketika dia berlaku dan perilakunya akhirnya mengundang reaksi orang-orang untuk memberikannya gelar subjektif ini hingga akhir hayatnya,yang menjadi permasalahan adalah orang menyebutkan gelar subjektif tanpa konteks peristiwa mengapa dia diberikan gelar tersebut,misal saya adalah seorang pemimpin yang mengeluarkan kebijakan yang disenangi rakyat,setelah itu rakyat menggelari saya sebagai orang cerdas hingga akhir hayat saya,walaupun pada saat memimpin saya sering keliru dan tidak peka terhadap situasi.
Itulah mengapa jika kita menyebutkan seseorang dengan gelar subjektifnya tanpa ada konteks peristiwa,kita mengabaikan hal-hal kontradiktif yang dilakukan individu tersebut,jika ingin memberi gelar subjektif kepada seseorang berikan juga konteks peristiwanya,"dia orang cerdas yang memimpin dengan kebijakan-kebijakan pemakmur rakyat",bukan hanya "dia orang cerdas",kenapa bermasalah?,karena jika dia melakukan hal diluar "orang cerdas" seharusnya gelarnya berganti pada saat itu juga menjadi "orang dungu" karena dia keliru,atau "orang biasa" karena dia makan,minum,dan tidur,(mungkin jika kita ganti kata "orang" dengan "pemimpin" lebih dapat diterima,walaupun tidak sampai akhir hayat).
Itulah yang terjadi bila kita menyebutkan gelar subjektif individu tanpa konteks peristiwa,abai terhadap kodrat individu itu sebagai manusia yaitu kedinamisan,tapi kita menggelarkan kestatisan yang menentang kodratnya sendiri,tapi,dengan memberikan konteks peristiwa yang berupa sejarah,yang bersifat statis tentunya,itu bisa dilakukan karena kita hanya mengambil beberapa bagian dari sejarah kedinamisannya yang sifatnya statis karena sudah menjadi sejarah,yang pada akhirnya kita menggelarkan kestatisan kepada kestatisan dan itu sah.
Mungkin jika kalian belum memahaminya saya berikan impikasinya pada dunia nyata,
Saya mendapat peringkat satu dikelas lalu saya diberikan gelar "orang pintar" oleh orang tua,guru,dan teman-teman saya sampai vidio saya yang sedang bersenggama dengan pacar saya tersebar dan akhirnya saya diberi gelar "orang cabul",jadi saya tahu gelar-gelar itu subjektif sesuai konteks peristiwa apa yang saya lalui,karena saya tidak akan menjadi "orang pintar" selama hidup saya, saya juga makan,minum,tidur yang membuat saya menjadi "orang biasa",lalu saya pun suka bersenggama dengan perempuan yang berbeda-beda yang membuat saya menjadi" orang cabul,lalu terkadang saya tidak mengerti suatu hal yang membuat saya menjadi "orang bodoh".
Itulah kenapa kestatisan tidak bisa digelarkan kepada kedinamisan,jadi tidak perlu kita menggelari seseorang dengan gelar subjektif tanpa disebutkan juga konteks peristiwanya,ada seorang pembunuh,kita bereaksi dengan berkata dia " orang jahat" ,tapi sebelumnya dan sesudahnya dia banyak melakukan kebaikan,tapi diabaikan karena gelar "orang jahat" tanpa konteks peritiwa,yang menjadikan dia jahat sepanjang hidupnya.
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar