+Indra dapat menipu
Fenomena kue dengan bentuk "non-kue" ramai di bicarakan dan bahkan dibercandakan dengan dijadikan meme,ataupun reaksi-reaksi pembuat konten yang jenaka,ada buah pisang,tetapi sesungguhnya itu kue yang berbentuk buah pisang,ada sepatu yang sesungguhnya adalah kue berbentuk sepatu,jadi kita benar-benar tertipu dengan kue-kue ini,fenomena ini telah menunjukan kepada kita bahwa indra dapat menipu.
Lalu apakah kita tidak bisa menjadikan indra sebagai acuan kebenaran?,tentu bisa,karena indra dapat menipu,bukan indra pasti menipu,oleh karena itu tentu ada kondisi-kondisi dimana sesuatu bisa diketahui dengan indra,dan ada pula kondisi-kondisi yang sebaiknya kita pergunakan alat untuk menentukan kebenaran,tapi kehati-hatian dapat mereduksi potensi kita untuk tertipu oleh indra.
Dengan sadar kita harus dapat meragukan kemampuan indra kita yang terbatas ini,jika kita ingin gunakan contoh kue diatas,kita telah tertipu dengan wujud kue yang
non-kue,tetapi harus dipertimbangkan juga bahwa indra yang terlibat pada kejadian ini hanyalah indra penglihatan,jika kita bisa memaksimalkan indra yang dipakai,misalnya,kita sentuh "sepatunya",dan kita akan tahu kalau ini bukanlah tekstur sebuah sepatu,lalu kita cium "sepatunya",kita akan tahu jika ini bukanlah aroma sebuah "sepatu",lalu kita rasakan" sepatunya",kita tahu bila ini bukan rasa sebuah "sepatu" melainkan sebuah kue,jadi dapat disimpulkan ini adalah kue.
Walaupun potensi bisa dinaikan jika indra yang terlibat lebih maksimal,tetap saja tidak menjadi pasti dan sempurna,karena indra kita bisa "sakit" dan tidak berfungsi secara normal yang membuatnya tidak dapat menentukan sesuatu yang diperindrakan,dan bisa saja si pembuat kue yang berbentuk sepatu tersebut,membuat kuenya bertekstur seperti sepatu,ber-aroma seperti sepatu,rasanya sih tetap kue,tetapi indra peraba dan indra penciuman tidak lagi berguna,jadi memaksilkan-pun belum tentu menaikan potensi juga.
Kehati-hatian pun diartikan untuk tahu
asas-asas yang berlaku di setiap kondisi,yang membantu kita dalam menentukan kebenaran akan sesuatu,bila kita datang ke toko kue dan di-etalase toko kue tersebut terdapat "sepatu",kita harus tahu bahwa asas dari toko kue adalah menjual kue,bukan menjual sepatu,jadi kita bisa tahu kalau "sepatu" itu seharusnya kue,bukan benar-benar sepatu,karena akan aneh jika toko kue menjajahkan sepatu,jadi kita bisa menentukan kebenaran bila kita tahu asas yang meliputi kebenaran tersebut.
Semoga dapat dimengerti,saya terinspirasi dari cerita Sphaerus murid zeno yang diundang makan malam oleh raja ptolemeus,sesudah ia dihidangkan lilin berbentuk buah delima,ia makan itu,dan sang raja tertawa,sphaerus berkata "saya memang sudah merasa tak yakin bahwa benda itu sungguh-sungguh buah delima,tapi saya pikir bahwa tentunya mustahil sesuatu yang tak layak dimakan dihidangkan di meja makan istana"
Source:A history of western philosopy by Betrand Russel.
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar