+Paksaan

 Kita bisa setuju bahwa keadaan pada saat ini lebih bebas dibanding zaman sebelumnya yang "paksaan" adalah hal yang wajar dalam mendidik/mengatur,tapi mari kita cari sudut lain dalam memandang persoalan ini(bagi saya ini asyik...)


Argumentasinya adalah zaman sekarang orang tua(mari dispesifikasi) lebih lembut dalam mendidik anaknya,yang didukung secara psikologi,tetapi resultan dianggap buruk,karena anak menjadi kurang ajar dengan kebebasan yang diberikan,jadi tidak ada kepastian bahwa kebebasan menghasilkan kualitas anak yang baik. 


Tapi fokus pembahasannya bukan keras dan lembut,melainkan memaksa dan tidak memaksa,saya beri contoh kalimat perintah yang "keras" dan "lembut",


Yang keras, 

"Pergi ke nenekmu,kalo tidak uang jajanmu papah potong!"


Yang lembut, 

"Pergi ke nenekmu,kasihan dia sudah tua,sakit-sakitan,mau ketemu cucu satu-satunya!"


Mana yang lebih memaksa? 


Tentu jika kita lihat secara tekstual yang keras lebih memaksa,karena ada ancaman yang menyertai perintah,tetapi apabila kita melihat konsekuensi dari penolakan,yang lembut lebih memaksa,sebab jika kita diperintahkan, 

"Pergi ke nenekmu,kalo tidak uang jajanmu papah potong",dan kita menolak,kita hanya menjadi anak yang tidak patuh,


Dan bila kita diperintahkan,

"Pergi ke nenekmu,kasihan dia sudah tua,sakit-sakitan,mau ketemu cucu satu-satunya", dan kita menolak,kita tidak hanya menjadi anak yang tidak patuh,tapi juga anak yang apatis karena tidak mengindahkan kondisi tragis nenek kita,yang tentunya akan lebih memaksa dibandingkan cara keras sebelumnya,karena semakin banyak alasan kita untuk tidak menolak melakukan sesuatu(karena itu bermanfaat,baik,untung,dsb),semakin akan kita melakukannya.


Oleh karena itu bagi para orang tua berilah alasan anak untuk melakukan sesuatu dibanding "harus patuh",sebab secara psikologi akan lebih efektif,misalkan cerita dimana seorang anak yang pergi dugem dan ayahnya menunggu didepan pagar rumah hingga anaknya pulang,itu lebih efektif daripada melarang,dengan itu anak memiliki alasan untuk melakukannya/tidak melakukannya,yang dari contoh diatas adalah,

"kalau saya dugem,kasihan bapa saya nunggu saya di depan pagar",yang membuat hubungan lebih harmonis pula,jadi usahakan agar anak berpikir "itu salah karena itu salah",jangan melarang ini dan itu dan anak berpikir, 

"itu salah karena orang tua saya akan marah/sedih/kecewa". 


Jadi bukan berarti hanya cara keras yang memaksa,karena dengan cara lembut-pun kita bisa memaksa,dan akan lebih efektif. 


Saya hanya siswa sma,tidak mendalami ilmu psikologi,dsb,saya hanya melihat kondisi sekitar,dan memprosesnya didalam imajinasi dan nalar saya sebagai kegiatan eksperimental,lalu maksud paksaan disini adalah terpaksa bukan dipaksa,yang dihasilkan dari kemapuan "mengatur" yang baik,jadi orang suka/tidak suka dengan mudahnya patuh dengan kita,dan contoh cerita itu dari om Deddy corbuzier. 


Terimakasih telah membaca. 



Komentar

Postingan Populer