+Kerakyatan
Saya tidak cukup pantas untuk membicarakan apa itu demokrasi,jadi saya ambil pemahaman demokrasi yang dikemukakan Abraham licoln yaitu kedaulatan rakyat,kalimat jelasnya adalah "Kepemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat,untuk rakyat,oleh rakyat",oleh karena itu saya ingin menguji sistem kerakyatan tersebut,apakah bisa seperti itu?,atau jika kita lihat kondisi Indonesia,apakah sudah seperti itu?.
Saya mungkin seorang yang pesimis akan ke-idealan/kesempurnaan pada konsep-konsep yang diterapkan untuk kolektif,semakin banyak yang diatur akan semakin sulit untuk mengaturnya,dan mungkin para konseptor ini memahami manusia seperti mereka memahami benda,bila didorong akan maju,bila ditarik akan mundur,manusia tidak sesimple itu,kita punya kesadaran,yang membuat kita bisa maju walaupun ditarik,atau menyingkir ketika didorong,jadi tidak ada kepastian tentang manusia,yang ada hanyalah kemungkinan.
Oleh karena itu kepemimpinan dari rakyat,untuk rakyat,oleh rakyat,memiliki jaminan untuk tercapai bila semua rakyat pantas menjadi pemimpin,kualitas rakyat harus sama,karena bila tidak yang terjadi adalah 3 hal:
1.dari mayoritas,oleh mayoritas,untuk mayoritas(atau bisa untuk rakyat).
2.dari yang berkepentingan,oleh yang berkepentingan,untuk yang berkepentingan (atau bisa untuk rakyat).
3.dari rakyat,oleh yang bijak,untuk rakyat,
dan poin ketiga menurut saya belum terjadi dimanapun.
Kenapa demikian?,karena jika rakyat memiliki kualitas Intelektual yang berbeda,tentu yang intektualitasnya lebih tinggi yang akan memimpin(kesampingkan urusan mau atau tidak),dan jika konsepnya adalah "dari rakyat",mungkin memang pemimpinnya dari rakyat,tetapi kebijakannya tentu bukan dari rakyat,karena banyak rakyat yang tidak memahami konsep-konsep ekonomi,politik,pendidikan,dll jadi dasarnya adalah kepercayaan bukan pengetahuan,yang membuat faktor
"untuk rakyat" sangat tergantung oleh siapa yang memimpin,jadi tidak ada jaminan bahwa konsep demokrasi-nya abraham licoln sesuai dengan praktiknya,dan globalisasi hanya membuat faktor buruk itu semakin jelas,individu bisa menjadi lebih kuat dibanding rakyat,dengan narasi yang bagus,yang enak untuk didengar dikuping rakyat,rakyat akan setuju,walaupun itu adalah omong kosong atau akan menyengsarakan rakyat.
Jadi,jadilah rakyat yang pintar,agar tidak tertipu oleh narasi-narasi manis omong kosong yang diajukan oleh pemimpin yang notabene-nya lebih pintar dari kita(secara logika),agar faktor "dari rakyat,oleh rakyat,untuk rakyat" dapat terlaksana,karena opini,kepercayaan,dll itu dapat dimanipulasi,dan saya rasa ini adalah peranan oposan untuk membela rakyat,jika yang memimpin tidak "untuk rakyat",saya akan bahas di tulisan berikutnya(tidak tahu kapan,tunggu saja).
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar