+Tafsir konseptual dari Kebahagiaan dan kenikmatan

 Saya akan coba menafsirkan kebahagiaan dan kenikmatan agar muncul titik terang,memang upaya ini sudah dilakukan,tapi yang muncul adalah dipisahkan sifatnya,yaitu kebahagiaan sebagai hal yang mulia,dan kenikmatan sebagai sesuatu yang hina dan keji,tapi saya tidak cukup puas dengan upaya penafsiran tersebut,karena bagi saya itu tidak terpisah sebagai sifat,karena sensasi adalah reaksi,bukan budi pekerti yang bersifat,jadi marilah kita pisahkan konsepnya. 


Saya sudah bahas definisi kebahagiaan,dan pasti akan ada ketidaksetujuan atas definisi saya,jadi mari fokus saja pada konsep dasarnya,yaitu "sensasi",yang saya rasa kita akan sepakat bila bahagia merupakan suatu sensasi,sensasi yang bagaimana?,silahkan tafsirkan sendiri.


(bila anda lebih memilih kata "rasa" dibanding "sensasi",silahkan ganti saja,jika itu dapat memudahkan pemahaman anda). 


Bahagia adalah sensasi,dan respon atas sensasi tersebut akan melahirkan sensasi pula,yaitu kenikmatan atau sebaliknya,oleh karena itu ada istilah "menikmati penderitaan" yang tersemat pada masokis,yang disisi lain bisa ada yang "tidak menikmati kebahagiaan",jadi realita memicu sensasi dan sensasi dapat memicu sensasi berikutnya,contohnya,pada saat orang memuji saya,tentu reaksi spontan saya adalah kebahagiaan,tetapi setelah itu muncul "ah saya tidak sebaik itu" jadi saya merespon sensasi tersebut dan memunculkan sensasi baru,bahwa, 

"saya tidak menikmati kebahagiaan dari hasil pujian"


Dan yang terjadi pada seorang masokis disaat dirinya disiksa,tentu yang muncul adalah sensasi penderitaan,tapi penderitaan itu direspon dan memunculkan sensasi kenikmatan,yang membuat si masokis merasakan sensasi,

"saya menikmati penderitaan dari hasil siksaan"


Mungkin kalian menebak bahwa yang merespon itu adalah pemikiran kita,itu bisa benar dan bisa salah,jika kasusnya adalah contoh yang saya alami,itu benar,karena muncul pemikiran bahwa, 

"ah saya tidak sebaik itu",

tapi pada kasus si masokis,tidak ada jeda waktu/jeda waktunya sangat pendek untuk bisa berfikir,karena sensasi kenikmatan "langsung" merespon sensasi penderitaan,jadi respon tersebut bisa dihasilkan dari rasionalitas,dan bisa pula dari emosionalitas.


Semoga dengan ini kita dapat memahami perbedaan dari kenikmatan dan kebahagiaan dalam konsepnya,silahkan kritik atau hina pun tak mengapa,mungkin saya beri satu kritik ilmiah pada saya sendiri bahwa "emosionalitas dan rasionalitas masuk dalam proses berpikir,tetapi prosesnya untuk berlangsung itu berbeda",karena saya sadari saya kesulitan mencari kata lain selain "pemikiran",untuk membedakan rasionalitas dan emosionalitas,dan saya lebih memilih kata "sensasi" karena lebih cocok di dalam pikiran saya,hehehehe. 


Terimakasih telah membaca. 


Komentar

Postingan Populer