+Legalisasi sebagai validasi
Kehebohan mengenai Gilang merupakan sebuah contoh bagaimana masyarakat kita bereaksi terhadap sesuatu yang "terlihat" biadab,kita melaknatnya di dalam kicauan Twitter,dan media lain,dengan kata-kata kasar yang menyertai pernyataannya.
Lalu apakah salah menyimpulkan tindakan gilang tanpa ada dukungan hukum dan diagnosa seorang ahli?,tidak jika kita sebagai individu yang merdeka,tetapi sebagai warga negara,yang negaranya adalah negara hukum,tentu kita harus mengikuti birokrasi hukum dan menunggu hasil yang dapat kita yakini.
Karena saya ingin adanya sebuah paradigma yang meragukan segala sesuatu,walaupun sesuatu itu terlihat seperti itu,haruslah ada pembuktian dengan pernyataan pelaku maupun bukti-bukti yang kuat terlebih dahulu.
Bayangkan bila kita sedang berjalan lalu ada orang yang memegang sebuah pisau ditangannya dengan cairan yang "diduga" darah ada di sekitar pisau,tangan dan pakaiannya,tentu kita akan langsung berfikir bahwa orang itu habis membunuh seseorang,tapi bisakah kita mengganti fikiran kita dari,"orang ini habis membunuh seseorang",menjadi,"orang ini bisa jadi habis membunuh seseorang,lalu menelepon polisi dan menunggu hasil dari birokrasi hukum yang ada,jika hukum memverivikasi tindakan pembunuhan silahkan kita percaya itu adalah tindakan pembunuhan.
Saya tahu itu adalah hal yang teramat sulit,karena kodrat kita yang menjauhi bahaya menjadikan kita bereaksi dengan mudahnya,tapi jila untuk kebaikan,bisakah reaksi itu lebih dikendalikab agar keadilan dapat ditegakkan,bahkan contoh diatas yang melihat langsung orang tersebut berkeadaan harus meragukannya,apalagi kita yang hanya melihatnya di Twitter,IG,WA,dll,
Harusnya lebih ragu daripada si "saksi",maupun "korban" dalam kasus gilang tentunya.
Salah atau benarnya Gilang sebagai predator dimata hukum dan diagnosa ahli tidak akan berdampak apa-apa disebabkan masyarakat sudah melaknatnya terlebih dahulu dengan bukti-bukti yang beredar,yang mana bisa dibuat,atau disalah pahami.
Dan jika memang Gilang benar seorang predator, "ah lu-nya aja yang ngga ngerti,toh gua benar",iya anda " kebetulan" benar,jadi jangan terlalu bangga,dan terapkan pola pikir yang meragukan segala bentuk kebiadaban yang terlihat telah dilakukan orang lain.
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar