+Opini menentang pengajuan pihak RCTI mengenai aturan penyiaran
Informasi yang beredar mengenai pihak RCTI yang ingin "melegalisasi" penyiaran dengan proses perizinan ternyata sudah diklarifikasi ketidakbenaraannya di podcast om Dedy Corbuzier(mereka mau kesetaraan dalam pengawasan diantara korporasi media),tapi entah kenapa yang bohong dan yang sebenarnya,saya sama-sama tidak setuju,karena dalam sisi saya,saya sangat setuju pada kebebasan dalam berkarya dan berpendapat,selagi tidak ada pihak lain yang dirugikan,yang pastinya oleh pihak RCTI akan dibantah dengan "ya,tapi bagaimana psikologi orang yang menonton konten-konten tersebut,jadi pengawasan yang terjadi di tv harus masuk juga ke media digital,demi mempertanggung jawabkan psikologi dan moral penonton".
Itu salah jika anda membandingkan channel tv yang mungkin kurang dari 50,dengan channel Youtube yang mungkin ratusan ribu,jadi tentunya tidak bisa digunakan tipe pengawasan yang setara diantara keduanya,dimana kita anggap ada 1 channel tv yang menayangkan konten "berbahaya",kemungkinannya untuk terlihat lebih banyak dibandingkan jika pilihan channel yang ada itu ratusan ribu,jadi jumlah orang yang menonton lebih sedikit,oleh karena itu tv lebih berdampak dikarenakan pilihannya yang memang tidak sebanyak youtube.
Dan jika berbicara psikologi,coba pikirkan bagaimana cara kita menonton tv dan cara kita menonton youtube,bila kita menonton tv kita terbiasa mencari acara yang "seru" tidak peduli apa channel tv nya,dan jika masuk ke segmen iklan,kita mencari channel lain yang "seru" dan belum masuk segmen iklan.
Tapi jika di youtube,kita akan menonton konten-konten yang direkomendasikan/sedang trending atau juga kita sudah memiliki tujuan sejak awal ingin menonton konten apa dan siapa,dan karena tidak ada iklan yang panjang kita akan fokus pada konten tersebut,beda dengan tv yang iklannya panjang dan real time,jadi kita mengganti channel yang tidak iklan sambil menunggu iklan di channel yang kita ingin tonton selesai,nah oleh karena itu tv lebih berpotensi berbahaya,karena pencarian yang acak dan pilihan yang sedikit.
Lalu pendapat mereka yang membuat kita senang "sebenarnya secara tidak langsung kita melindungi pembuat konten,karena apapun konten yang di upload oleh sang pembuat konten,akan di pertanggung jawabkan oleh regulator/korporasinya yaitu Youtube,jadi tidak ada urusannya dengan si pembuat konten".
Bagaimana tidak ada urusannya???,misalkan ada konten yang berbicara kasar,dan youtube akan dilaporkan karena itu,dan si pelapor menang dalam pengadilan,lalu Youtube akan di sangsi,tentu sudah pasti Youtube akan memberi peraturan tidak boleh berbicara kasar daripada mereka dituntut kembali,jadi siapa yang menang disini?,
Tv,orang baper,dan orang tua yang males mengurus anaknya.
Saya sangat ingin adanya kebebasan dalam berpendapat dan berkarya,tapi kenapa yang diajukan adalah pengawasan Youtube mengikuti tv,bukan pengawasan tv mengikuti youtube,daripada youtube yang "bebas" di samakan tv yang "beradab",kenapa tidak tv nya yang "beradab" dijadikan "bebas" sama seperti youtube,saya sudah tahu jawabannya,yaitu karena lebih mudah jadi "beradab",lebih banyak pendukungnya,budaya timur sangat menentang "kebebasan",jadi jangan seolah-olah pihak tv memperjuangkan kebaikan,dimana nyatanya yang mereka perjuangkan adalah uang dan keuntungan.
Lalu mereka membawa hati kita dengan pernyataan "kita tidak mungkin memusuhi pembuat konten,karena kita punya MCN yang isinya para pembuat konten,masa kita memusuhi teman kita sendiri".
Pertama-tama apakah pembuat konten yang ada di MCN itu ada yang membuat konten "bahaya",tidak kan?,semua pembuat konten itu mengikuti standar tv yang "aman",tentu anda tidak merugi karena anda bermain di zona aman yang nihil kemungkinannya untuk dilaporkan oleh orang-orang baper,dan orang tua pemalas,tapi para pembuat konten "bahaya" entah mengkritik dengan tidak sopan,bahaya untuk anak-anak,atau lebih spesifik seperti channel Filthyfrank yang masak-masak tikus,rambut,dan hal menjijikan lainnya tidak akan diterima,jadi anda mungkin tidak memusuhi,tetapi karena ketamakan anda mencari keuntungan,mereka menjadi korban.
Saya tidak tahu mereka terlalu malas mempelajari detai-detail perbedaan media digital dan media mereka,atau memang sudah dibutakan oleh uang,jadi segala cara dilakukan yang saya kira itu "dungu",
Mereka ingin "disamakan",tapi apakah memang sama???,saya agak jengkel karena umpan untuk kita menjadi masyarakat yang "bebas" sudah dibantu oleh Youtube,Netflix,dkk,eh kok malah mau ditarik umpannya,hadeh.....,jadi baperan semua.......
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar