+ Batas Buas dan Tidak Buas

Pertemuan dengan hewan buas merupakan momen yang menegangkan, di mana adrenalin mengalir deras dan insting primitif kita bangkit "menuju tak terbatas dan melampauinnya" untuk kabur dan melawan jika terfasilitasi. Hewan buas sering kali diasosiasikan dengan keganasan dan insting predator, sedangkan hewan tidak buas dilihat sebagai makhluk yang jinak dan aman. Namun, dimana batas daripada perbedaan tersebut dan saya berpendapat bahwa ini bukanlah sesuatu yang mutlak dan mudah untuk didefinisikan. 


Jika ditinjau melalui lensa etika dan ontologi, hewan buas dan tidak buas dalam pandangan Aristotelian adalah karena makhluk hidup diklasifikasikan berdasarkan kapasitas rasionalitas dan tujuannya, hewan buas dalam hal ini, dianggap sebagai entitas yang beroperasi berdasarkan insting dan naluri dasar, tanpa kemampuan rasionalitas yang diatributkan kepada manusia dan sebab itulah ia buas, maka selain manusia adalah buas. 


Tidak jauh berbeda, filsuf seperti Thomas Hobbes melihat alam liar sebagai keadaan yang 'brutal dan penuh kekacauan', di mana hewan buas adalah simbol dari sifat alamiah yang tak terkontrol. Namun, pandangan ini mulai berubah dengan munculnya pemikiran-pemikiran baru yang melihat hewan sebagai makhluk dengan kompleksitas perilaku dan sosial yang tinggi.


Sebab terdapat ilmuan seperti Konrad Lorenz (1903-1989) yang mengklasifikasi hewan buas dan tidak buas didasarkan pada perilaku, habitat, dan interaksi dengan manusia. Hewan buas umumnya adalah predator atau spesies yang memiliki potensi bahaya besar bagi manusia, seperti singa, harimau, dan beruang. Sementara itu, hewan tidak buas cenderung termasuk hewan herbivora atau hewan yang telah lama didomestikasi oleh manusia, seperti sapi, domba, dan anjing


Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa perilaku hewan tidak bisa sepenuhnya diprediksi hanya berdasarkan spesiesnya. Faktor lingkungan, interaksi sosial, dan pengalaman individu juga memainkan peran penting dalam menentukan apakah seekor hewan akan bertindak secara agresif atau jinak. Dan yang memberikan predikat hewan buas atau tidak adalah manusia yang didasari pada interaksinnya pada hewan yang dimana manusia juga merupakan hewan, jika kita objektif apakah manusia tergolong hewan buas atau tidak?. 


Jika kita jujur, manusia memiliki potensi untuk perilaku buas, tetapi kita juga memiliki kemampuan untuk kontrol diri, refleksi moral, dan penciptaan peradaban yang kompleks. Oleh karena itu, sementara manusia bisa menunjukkan sifat-sifat buas dalam kondisi tertentu, kita juga memiliki aspek-aspek yang jauh melampaui definisi tradisional dari hewan buas.


Namun secara kasar, jumlah hewan non-manusia yang dibunuh oleh manusia jauh lebih besar daripada jumlah manusia yang terbunuh oleh hewan non-manusia. Rasio ini mencapai triliunan hewan non-manusia terhadap ratusan ribu manusia, menunjukkan bahwa manusia adalah spesies yang jauh lebih mematikan bagi spesies lain dibandingkan ancaman dari spesies lain terhadap manusia.


Tapi pastinnya kita menolak predikat "buas" dengan segala macam cara dan selalu merasa sebagai korban/mangsa atas hewan-hewan buas ini dan bukan sebaliknnya. 


Egoisitas/egosentrisistas ini dapat divalidasi dengan klasifikasi hewan sebagai "buas" yang didasarkan pada sejauh mana mereka dianggap sebagai ancaman bagi manusia. Hewan-hewan yang bisa menyerang atau membahayakan manusia cenderung diberi label "buas". Ini mencerminkan perspektif yang berpusat pada manusia, di mana keselamatan dan kesejahteraan manusia menjadi tolok ukur utama.


Hewan yang telah dijinakkan atau biasa berinteraksi secara damai dengan manusia, seperti anjing atau kucing, dianggap "tidak buas," meskipun spesies tersebut masih memiliki naluri alami yang bisa berpotensi agresif dalam situasi tertentu. Pengalaman manusia dengan hewan tersebut sangat mempengaruhi persepsi ini. Mungkin jika daging dari singa teramat enak sehingga begitu sayang jika tidak dikonsumsi secara umum, maka kemungkinan besar mereka akan didomestikasi dan perlahan predikat "buas"nnya akan meluntur. 


Dikarenakan hewan yang memberikan manfaat langsung kepada manusia, seperti hewan ternak atau hewan peliharaan, sering kali tidak dianggap sebagai buas meskipun mereka bisa memiliki perilaku agresif. Sebaliknya, hewan liar yang tidak memberikan manfaat langsung atau yang mengancam sumber daya manusia (seperti serigala yang mengancam ternak) sering dianggap sebagai buas.


Dari pola diatas dapat kita cerna apabila kebuasan suatu hewan lebih dikontribusikan oleh atribut fisiknnya dan bukan mentalnnya, seekor belalang mungkin bisa memiliki mental lebih agresif dari seekor singa, namun tetaplah akan berlebihan jika menganggap belalang sebagai "buas" dengan atribut fisiknnya yang tidak berpotensi membahayakan manusia. Hewan yang memiliki kekuatan fisiklah,  seperti gigi tajam, cakar, bisa, atau taring dan ukuran tubuh besar yang sering kali dikategorikan sebagai buas karena mereka memiliki kemampuan untuk membunuh atau melukai dengan efektif. 


Terakhir, secara umum kita sepakat pada klasifikasi mana yang buas dan tidak, tapi tidak lupa budaya dan mitos juga mempengaruhi bagaimana hewan dilabeli. Dalam beberapa budaya, hewan tertentu dianggap sebagai simbol kekuatan atau kejahatan dan diberi label buas, sementara dalam budaya lain, hewan yang sama bisa dianggap suci atau dihormati yang menambah kompleksitas dari pengklasifikasian ini. 


Di alam tersendiri, tindakan hewan dan tumbuhan tidak dinilai berdasarkan moralitas seperti baik atau jahat, buas atau tidak buas. Sebaliknya, mereka berfungsi berdasarkan naluri dan kebutuhan biologis mereka, berkontribusi pada keseimbangan dan kestabilan ekosistem. Ini merupakan Konsep moralitas atas dasar konstruksi manusia yang sering kali digunakan untuk memahami dan menginterpretasikan perilaku alam dari sudut pandang etis atau filosofis.


Terimakasih telah membaca. 











Komentar