+ Delusi Zaman Keemasan

Zaman modern tampak kurang memenuhi kepuasan kita yang hidup dikala ia sedang berkembang pesat, segala bentuk cerita didalam sejarah, keyakinan/mitos, dan dongeng mengajak komunitas untuk merasa  terjadinnya degradasi pada kehidupan sosial, biologis, dan ideologis. Zaman keemasan pada yang kita kenal sekarang sebagai mitos akibat "kadaluarsannya" agama/keyakinan adalah disaat zaman pra-mortal, dan dewa-dewi aktif berinteraksi serta terikat dengan kehidupan mortal maupun sebaliknnya, pada agama, zaman keemasan adalah masa ketika manusia "berjalan-jalan" di taman surga, tempo kenabian dimana  termanifestasinnya mukzizat dan keajaiban diluar pengaturan alam, saat para manusia berumur ratusan/ribuan tahun, dan juga disaat luhurnnya masyarakat agama dalam mewujudkan kekuasaan/pengamalan agama atas sosio-politik/ilmu pengetahuan/ekonomiekonomi. Untuk negara, zaman keemasan adalah masa ketika populasi dipimpin oleh pahlawan dan orang-orang bijaksana. Cerita-cerita mengenai hal tersebut telah memicu gangguan berupa kerinduan sosial akan masa lalu dan kenestapaan sosial pada masa kini yang bagi saya gangguan ini merupakan bentuk dari delusi.

Istilah "zaman keemasan" berasal dari bahasa Yunani Kuno, yang dikenal sebagai "chrysos aion," mengacu pada masa yang dipenuhi oleh kedamaian, keadilan, dan kemakmuran. Dalam mitologi Yunani, zaman keemasan adalah periode pertama dari empat zaman, diikuti oleh zaman perak, zaman perunggu, dan zaman besi, yang masing-masing ditandai dengan kemerosotan moral dan sosial.

Manusia menciptakan konsep zaman keemasan sebagai bentuk idealisasi masa lalu yang sempurna. Konsep ini mungkin muncul dari keinginan untuk menemukan makna dan ketenangan dalam menghadapi tantangan kehidupan. Selain itu, narasi tentang zaman keemasan seringkali digunakan untuk menegaskan nilai-nilai moral dan sosial, serta sebagai alat untuk mengkritik keadaan zaman sekarang dengan harapan untuk perbaikan.

Namun jalas zaman keemasan nyatannya tidak melampaui zaman karena sifatnya yang utopis dan idealistis. Realitas historis menunjukkan bahwa setiap periode memiliki tantangan dan masalahnya sendiri. Zaman keemasan seringkali adalah konstruksi mitologis atau keagamaan yang tidak berdasarkan fakta empiris, melainkan pada imajinasi kolektif yang mencari makna dan kemakmuran.

Berbagai studi historis dan arkeologis menunjukkan bahwa kehidupan pada zaman yang disebut sebagai zaman keemasan mungkin tidak sebaik yang digambarkan dalam mitos dan narasi keagamaan. Kehidupan pada masa tersebut sering kali diwarnai oleh ketidakpastian, konflik, dan keterbatasan teknologi. Sebaliknya, banyak indikator menunjukkan bahwa kehidupan manusia saat ini telah mengalami peningkatan signifikan dalam berbagai aspek, seperti kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan ekonomi.

Sebagai contoh, tingkat harapan hidup global telah meningkat drastis dalam beberapa dekade terakhir. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), harapan hidup global rata-rata meningkat dari 52,5 tahun pada tahun 1960 menjadi 72,6 tahun pada tahun 2019. Selain itu, tingkat kemiskinan ekstrem telah berkurang secara signifikan. Menurut Bank Dunia, persentase populasi dunia yang hidup dalam kemiskinan ekstrem turun dari 36% pada tahun 1990 menjadi kurang dari 10% pada tahun 2015.

Dengan demikian, meskipun narasi tentang zaman keemasan menawarkan gambaran ideal masa lalu, kenyataan menunjukkan bahwa kehidupan manusia saat ini telah mengalami banyak peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan masa-masa yang disebut sebagai zaman keemasan.

Terimakasih telah membaca.

Komentar

Postingan Populer