+ Apakah Kita Butuh Superman?

Gagasan tentang seorang manusia super, seperti "Superman" dan kawan-kawannya, secara implisit telah menciptakan paradigma dualisme atas klasifikasi psikis manusia "jahat" dan "baik". Logika "jika dia tidak baik maka dia pasti jahat" terakselerasi dengan signifikan, namun belakangan lebih baik karena para manusia super itu tidak lagi dikisahkan hanya sebagai individual, namun juga sebagai team dan partner yang mempromosikan moralitas modern untuk mengedepankan kolaborasi dan kerja sama, ditambah, mulai populer untuk menceritakan latar belakang penjahat yang berefek penonton menjadi empati dan bahkan beralih membela mereka (contoh : Joker). Dalam bahasan ini, kita akan mengeksplorasi apakah kita membutuhkan figur seperti Superman, dan apakah Superman dapat menjadi Anti-tesis yaitu simbol ketidakadilan.

Friedrich Nietzsche membuat analog dengan memperkenalkan konsep Übermensch sebagai manusia yang melampaui nilai-nilai tradisional dan moralitas konvensional, menciptakan nilai-nilai baru dari kekuatan kehendak dan individualisme. Übermensch bukan sekadar manusia dengan kekuatan fisik luar biasa, tetapi seorang yang mampu memaksimalkan potensinya dan hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dia ciptakan sendiri

Menurut Nietzsche, Übermensch adalah aspirasi tertinggi manusia untuk mencapai tingkat eksistensi yang lebih tinggi, bebas dari batasan dan prasangka sosial. Dalam konteks ini, Übermensch adalah simbol evolusi manusia yang ideal, yang menginspirasi kita untuk melampaui diri kita sendiri dan meraih kebesaran. Tapi nasib bagi orang yang "melampaui zamannya" tinggi kemungkinan berakhir dengan tragedi karena ia tidak akan dipahami dan diterima oleh zamannya, ambil contoh Galileo yang dihukum mati oleh gereja. 

Sekarang mari kita bahas Superman yang menjadi fokus bahasan, yaitu sebagai karakter komik, digambarkan dengan sosok yang memiliki kekuatan fisik dan moral yang luar biasa. Diciptakan oleh Jerry Siegel dan Joe Shuster pada tahun 1938, Superman sering dianggap sebagai penegak keadilan dan pelindung umat manusia. Dia adalah simbol harapan dan kebenaran dalam masyarakat yang sering kali dipenuhi dengan ketidakadilan dan korupsi.

Keberadaan figur seperti Superman dalam budaya populer memberikan kita gambaran ideal tentang pahlawan yang bisa diandalkan untuk mengatasi masalah-masalah besar yang melampaui kemampuan manusia biasa. Dalam masyarakat yang kompleks dan penuh tantangan, kebutuhan akan simbol harapan dan inspirasi sangat penting. Superman, dalam hal ini, berfungsi sebagai model aspiratif yang mengingatkan kita tentang potensi kebaikan dan keberanian dalam diri manusia.

Namun, jika kita bergantung terlalu banyak pada figur seperti Superman, kita mungkin kehilangan kemampuan untuk mengembangkan kemampuan kita sendiri. Nietzsche mengingatkan kita bahwa kita tidak seharusnya menunggu sosok penyelamat eksternal, melainkan menjadi Übermensch dalam kehidupan kita sendiri. Manusia dengan kapasitasnnya harus berjuang menunda kepunahan dengan akal dan tenagannya bersama-sama, bukan bertumpu pada sosok yang mungkin akan menghilang atau berubah.

Karena Superman yang sering dilihat sebagai penegak keadilan, memiliki argumen dimana keberadaan figur semacam itu bisa menciptakan ketidakadilan. Superman memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa, sehingga menciptakan ketidakseimbangan dalam distribusi kekuasaan. Jika kekuatan tersebut tidak diawasi dengan bijaksana, ia bisa menjadi simbol dominasi dan penindasan, meskipun dengan niat baik.

Selain itu, ketergantungan pada sosok seperti Superman bisa mengurangi tanggung jawab kolektif kita untuk mengatasi masalah sosial dan ketidakadilan. Dalam realitas, keadilan sejati membutuhkan partisipasi aktif dan kolaborasi dari semua anggota masyarakat, bukan hanya satu individu yang luar biasa.

Dalam perspektif Nietzschean, kebutuhan akan seorang "Superman" dalam bentuk Übermensch adalah untuk mendorong setiap individu untuk melampaui batasan dirinya sendiri dan menciptakan nilai-nilai baru yang lebih tinggi. Sementara dalam budaya populer, Superman adalah simbol harapan dan keadilan, tetapi juga bisa menjadi simbol ketidakadilan jika kekuatan yang dimilikinya menciptakan ketidakseimbangan dalam masyarakat.

Pada akhirnya, kebutuhan akan Superman mungkin lebih merupakan refleksi dari keinginan kita untuk menemukan dan memaksimalkan potensi dalam diri kita sendiri, daripada bergantung pada figur eksternal untuk menyelamatkan kita. Keberadaan Superman mengingatkan kita tentang pentingnya aspirasi dan tindakan kolektif dalam menciptakan dunia yang lebih adil dan manusiawi. Maka dari itu SUPERMAN HARUS MATI !!! 


Terimakasih telah membaca. 



Komentar

Postingan Populer