+ Normalisasi Cowok "Skincare"
"Cowok peduli kulit" dalam beberapa dekade terakhir mulai mendapatkan penerimaan yang lebih luas. Fenomena ini menandakan pergeseran budaya yang signifikan dan mencerminkan perubahan dalam norma-norma gender tradisional. Filosofi gender tradisional seringkali menempatkan perawatan diri dan kecantikan sebagai aktivitas yang feminin. Namun, dalam pandangan yang lebih modern dan inklusif ini, perawatan diri dipandang sebagai bentuk tanggung jawab pribadi dan penghormatan terhadap tubuh sendiri, kita tidak seharusnya dibatasi oleh norma-norma gender yang sejalan berdampingan dengan teori queer dan post-strukturalis yang menekankan fluiditas identitas gender dan pentingnya melampaui dikotomi tradisional.
Secara kronologis, perubahan ini dapat ditelusuri kembali ke beberapa dekade terakhir. Pada tahun 1980-an dan 1990-an, mulai muncul kampanye iklan yang menargetkan produk perawatan kulit untuk cowok. Awalnya, produk-produk ini sering diiklankan sebagai produk yang "maskulin" untuk menghindari stigma feminin. Namun, pada awal 2000-an, dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya perawatan kulit dan meningkatnya penerimaan masyarakat terhadap berbagai ekspresi gender, penggunaan skincare oleh pria menjadi lebih umum. Dari respon yang heran dan sinis, kini lebih moderat, walaupun masih tidak umum untuk seorang cowok memperlihatkan dirinnya sedang melakukan perawatan ataupun menjadikan perawatan sebagai topik diskusi antar cowok.
Meski pada era digital saat ini, media sosial memainkan peran besar dalam normalisasi ini. Banyaknya influencer dan selebritas cowok terbuka tentang rutinitas perawatan kulit mereka, secara tidak langsung perlahan membantu merubah persepsi publik. Pada studi Rudman dan Mescher (2013) dalam Journal of Experimental Social Psychology mengkonfirmasi bahwa cowok yang terlibat dalam rutinitas perawatan diri lebih mungkin memiliki pandangan yang progresif tentang gender dan lebih menerima peran gender yang non-tradisional.
Efek perawatan yang signifikan ini saya asumsikan juga disebabkan oleh tuntutan era modern untuk menjadi "sempurna" yang lebih besar dibandingkan era sebelumnnya. Michael Foucault dalam penelitiannya tentang biopower dan kontrol sosial, mengamati bagaimana masyarakat modern semakin mengatur individu untuk mencapai standar tertentu dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk penampilan fisik dan kesehatan. Zygmunt Bauman menyoroti bagaimana individualisme modern mendorong individu untuk terus berupaya mencapai standar yang tinggi, termasuk dalam hal citra fisik dan pencapaian pribadi akibat tekanan untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan cepat dalam masyarakat modern, termasuk teknologi dan globalisasi.
Jika dilihat dari aspek utilitas tuntutan ini mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus nilai bargaining antar individu. Dari pribadi saya ini sangat bermanfaat karena dapat memperkirakan kesanggupan individu jika ingin menghidupi individu lain yang merupakan pasangan dan anak-anaknnya nanti yang setidaknnya dari variabel nilai harga perawatan tetapnnya. Karena saya pribadi menilai hubungan pernikahan sejati bukan sebagai ritual mistikal, namun kegiatan transaksional dengan konsensus-konsensus ekonomis. Tapi saya asumsikan sekat-sekat ini akan memudar bahkan hilang karena perawatan sejatinnya bukan menjual estetika, melainkan kosekuensi kesehatan yang efeknnya relatif estetik. Akibatnnya, barang-barang perawatan pasti akan terus turun harga karena ketatnnya persaingan dan inovasi yang semakin terakselerasi. Untuk barang-barang seperti tas,mobil,dsj. masih mungkin untuk selalu dapat mematok harga tinggi sebab mereka dominan menjual estetika, ide, dan histori, tidak seperti barang-barang perwatan/kecantikan.
Saya pribadi tidak melakukan perawatan lebih dari cuci muka, mungkin akibat kurangnnya informasi dan belum adannya konflik psikologis untuk lebih care kepada skin 😁.
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar