+ Mengapa Cowok Banci Lebih Banyak Dibandingkan Cewek Tomboy?

Cowok feminim dan cewek maskulin dianggap sebagai anomali secara umum. Cowok di mata masyarakat akan dianggap feminim bila ia senang bermain boneka, merias dan mendandani dirinnya bukan dengan tujuan menjadi tampan tetapi menjadi cantik, dan memiliki gestur yang gemulai. Sedangkan cewek yang dianggap maskulin adalah yang senang bermain dengan mekanika, mendandani dirinnya dengan tujuan menjadi tampan dan keren, dan memiliki gestur yang tegas/kasar. Kesampingkan data statistik, bila kita jujur bukankan benar adannya bahwa kita lebih sering melihat banci daripada tomboy disamping seberapa ekstrim kebancian dan ketomboyannnya?, Lalu kenapa hal ini terjadi?.

Kita membedakan fenomena banci dan tomboy ini dengan LGBT+ karena kebancian maupun ketomboyan tidak secara simultan menentukan orientasi seksual mereka. "Bermain dengan boneka tidak menyebabkan homoseksualitas" kata J. Michael Bailey, seorang psikolog di Northwestern University.

Di indonesia sendiri data populasi banci dan tomboy belum konkrit, mengacu data populasi rawan terdampak HIV jumlah waria diperkirakan mencapai 597 ribu orang, dan berdasarkan data Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) 2008–2009, Adapun jumlah waria seluruh Indonesia diperkirakan mencapai 7 juta orang. Untuk tomboy sendiri saya tidak menemukan data populasinnya dan ini menandakan bahwa kita lebih memperhatikan banci daripada tomboy dengan intensi yang berbeda-beda, namun dengan sumber yang lemah yaitu Facebook, ditemukan Komunitas Cewek Tomboy Indonesia (KCTI) yang memiliki 3,8rb anggota.

Melansir data PBB tahun 2021, presentase jumlah laki-laki di dunia adalah 50,42%, sedangkan perempuan ada 49,58%, dengan selisih yang tidak begitu berarti bisa dikatakan bahwa ketimpangan jumlah banci dan tomboy ini bukan disebabkan oleh ketimpangan jumlah jenis kelamin. Yang tersisa adalah "Nature and Nurture", individu banci dan tomboy menjadi demikian karena dipengaruhi lingkungan sekitar/pengasuhan dan faktor alamiah, untuk faktor lingkungan/pengasuhan terlalu ambigu dan berbelit-belit dengan kesimpulan yang membingungkan, maka dari itu kita kulik saja perihal pengaruh alamiahnnya.

Berdasarkan embriologi, lima hingga enam minggu pertama perkembangan embrio dikaitkan dengan kromosom X saja, dan perempuan tumbuh dari embrio hingga berkembang sepenuhnya hanya melalui pengaruh kromosom X. Untuk laki-laki, setelah periode lima atau enam minggu, gen yang disebut gen SRY akan aktif pada kromosom Y, dan secara aktif menghambat fitur tertentu dari kromosom X. Peristiwa ini juga akan memaksakan perubahan melalui dominasi genetik. Sifat fisiologis laki-laki seperti testis akan muncul. Ini berarti bahwa jika gen SRY tidak diaktifkan, fenotipe dan penampilan fisik wanita - yang berarti klitoris bukan penis - akan bertahan. Oleh karena itu pada 6 minggu pertama kita semua adalah perempuan, dan terjadi anomali kromosom Y yang menjadikan kita sebagai laki-laki melalui proses maskulinisasi (perubahan fisik perempuan menjadi laki-laki) dan defeminisasi (perubahan otak perempuan menjadi otak laki-laki) dengan intensitas yang berbeda-beda, dan ini dapat menjadi alasan yang kuat kenapa lebih banyak banci dibanding tomboy. Dengan pengaturan awal sebagai perempuan secara fisik dan psikis dan kurangnnya kromosom Y yang "mengganggu", tentu wajar bila secara fisik laki-laki terlihat kewanitaan dan secara karakter laki-laki seperti wanita.

Fenomena cowok feminim dan cewek maskulin adalah hasil dari interaksi kompleks antara faktor biologis dan sosio-kultural. Memahami keanekaragaman dalam ekspresi gender dan identitas adalah langkah penting kebijaksanaan yang lebih inklusif tanpa harus setuju namun juga tidak mendiskriminasi hak mereka sebagai individu untuk mengekspresikan diri mereka dengan bebas. 

Komentar

Postingan Populer