+ Paradoks Preferensi Profesi (Orang Tua)

Kesinisan orang tua pada profesi-profesi tertentu seperti dokter, pegawai negri, aparat, dlsb. akibat rasa keadilan orang-orang tua ini bersinggungan dengan jatuhnnya ekspetasi dan konsekuensi irasional yang mereka dapatkan dari pelayanan dan sikap profesi tersebut. Biaya suntik/pengobatan yang mahal, prosedur kerja yang lamban, nepotisme yang bermekaran di lingkungan profesi tersebut memantik ledakan mulut nyinyir orang-orang tua ini, Namun, di tengah kritik tajam ini, muncul sebuah paradoks, MEREKA JUSTRU MEREKOMENDASIKAN DAN BANGGA APABILA ANAKNNYA MENITI KARIR PADA PROFESI TERSEBUT. Fenomena ini mengundang pertanyaan mendalam mengapa orang tua yang sinis terhadap profesi tertentu justru menginginkan anak-anak mereka untuk memasuki profesi tersebut?.

Dengan melamun lebih dalam membuat saya berasumsi apabila orang tua, meskipun bersikap kritis terhadap profesi tertentu, juga mengakui bahwa profesi-profesi ini menawarkan stabilitas, prestise sosial, dan keuntungan ekonomi yang signifikan. Stabilitas finansial adalah salah satu alasan utama karena profesi seperti dokter, pegawai negeri, dan aparat biasanya menjanjikan penghasilan yang stabil dan tunjangan yang memadai, yang dianggap penting untuk kesejahteraan jangka panjang. Di tengah ketidakpastian ekonomi, jaminan pekerjaan di sektor-sektor ini menjadi daya tarik yang kuat.

Selain itu, prestise sosial juga memainkan peran penting. Profesi-profesi ini sering kali dipandang terhormat dan memiliki status sosial yang tinggi. Orang tua mungkin berharap bahwa dengan mendorong anak-anak mereka ke profesi-profesi ini, mereka dapat meningkatkan status sosial keluarga secara keseluruhan. Dalam masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh hierarki sosial, memiliki anak yang berhasil di profesi bergengsi dapat menjadi sumber kebanggaan dan kehormatan.

Namun, ada juga aspek irasional yang tidak bisa diabaikan. Orang tua mungkin merasa (walaupun saya lebih merasa tidak) bahwa dengan menempatkan anak-anak mereka di posisi-posisi ini, anak-anak mereka dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan ketidakadilan yang mereka alami dan rasakan. Ada harapan bahwa generasi berikutnya akan mampu memperbaiki sistem dari dalam dan membawa perubahan positif. Meskipun harapan ini mungkin idealistis.

Ketegangan antara dimensi idealisme dan pragmatisme orang tua yang mengkritik profesi tertentu mungkin didorong oleh idealisme dan keinginan untuk keadilan, tetapi pada saat yang sama, mereka juga pragmatis dalam menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka. Mereka menyadari bahwa meskipun ada ketidakadilan dalam sistem, berada di dalam sistem tersebut masih menawarkan peluang terbaik untuk kehidupan yang lebih baik.

Namun ini juga dapat menjadi tanda bahwa kita sebagai sosial memiliki kualitas empati yang busuk. Pada Leviathan, buku karya Thomas Hobbes membahas tentang sifat dasar manusia yang cenderung egois dan mencari keuntungan pribadi. Hobbes percaya bahwa manusia secara alami mementingkan diri sendiri dan bahwa dalam kondisi alamiah, setiap orang akan bersaing satu sama lain untuk sumber daya. Sikap di mana seseorang tidak suka diperlakukan buruk tetapi tidak peduli jika orang lain diperlakukan dengan buruk dapat dilihat sebagai manifestasi dari egoisme dasar ini. Lebih buruk lagi asumsi saya bila egoisme ini tercipta karena bentuk normalisasi profesi, walaupun ia merasa tidak adil tapi ia menyadari bahwa semuannya pun merasakan apa yang ia rasakan, maka konsekuensi logisnnya adalah ketidakadilan yang ia rasakan itu wajar, dokter yang mematok biaya mahal, pegawai negeri yang lamban dan leha-leha, aparat yang lalai dan menjauhi norma-norma hukum adalah wajar dan mungkin berharap anaknnya dapat berleha-leha, mendapatkan pemasukan yang mudah, dan fleksibel dalam bekerja.

Terimakasih telah membaca.

Komentar

Postingan Populer