+Keresahan 13 desember 2020
Rangkuman keresahan peristiwa yang baru-baru ini
Korupsi benur,
Saya tidak membahas si koruptor karena sudah banyak yang bahas,melainkan
Prabowo yang terlihat nyaman pada posisinya sebagai menteri pertahanan atau tidak dapat menyadari peluang,karena dia tidak segera memecat eddy sebagai bentuk etis yang saya yakin paling tidak pada 2024 akan menambah 3% suara,apalagi mundur sebagai menteri karena alasan etis yang dia pernah berjanji menyeret dan mengejar koruptor tapi anak angkatnya korupsi,sebagai ayah secara etis dia seharusnya merasa malu dan mundur sebagai konsistensinya memberantas korupsi dan paling tidak suara akan bertambah 8%,jadi jangan hanya memberantas korupsi jika yang melakukannya adalah orang yang jauh dengan dia.
Korupsi bansos,
Saya tidak paham bagaimana cara berpikirnya,yang saya tahu dia bermain di dunia automotif,dan kesosialan merupakan bidang yang jauh dari beliau,tapi karena saya duga adanya dorongan parpol dia menjadi mentri yang kapasitasnya dipertanyakan,lalu dia wara-wiri ke media milenials menujukan kesosialannya,membawa drama yang terjadi ditengah masyarakat agar sengaja atau tidak menjadikan dirinya terlihat peduli dan berjiwa sosial sesuai jabatannya mentri sosial,tapi dia akhirnya tertangkap karena dana bansos,yang membuktikan dirinya sebagai menteri sosial yang tidak berjiwa sosial.
Pamor KPK,
KPK telah menangkap 2 mentri diwaktu yang berdekatan disatu sisi saya senang dan disisi lain saya curiga atas ketidak-independenan KPK,karena secara "kebetulan" mentri yang tertangkap berasal dari partai gerindra dan PDIP,yang saya curigai ada permainan politik atas "kebetulan" tersebut,mungkin kecurigaan saya tak berdasar,tapi tetap saja saja sebelum sistem perekrutan parpol dibenarkan,jangan biarkan mentri berasal dari parpol,lebih baik akademisi atau intelektual yang pantas untuk menjadi mentri.
HRS,
Entah licik atau bodoh,pemerintah terlihat kaget atas besarnya HRS,yang jika ada rasa nasionalisme di istana,seharusnya sudah ada indikator-indikato bahwa HRS dan kelompoknya tidak pro "negara" dari tahun-tahun belakangan,tapi mereka terus berkiprah dan membesar hingga pemerntah terkejut bukan mengajak dialog/"mengayomi",tapi bisa jadi ada kelicikan yang bersemayam didalam otak istana,siklus,
membuat masalah>masalah besar>masalah diselesaikan>pemerintah mulia
mungkin sudah direncanakan,tapi entah mengapa hingga sekarang masih seperti "dibiarkan",belum ada langkah "penyelsaian" yang berarti,bisa saja HRS dan kelompoknya ini menjadi masalah yang dapat menutupi masalah-masalah lain karena fokus masyarakat kesana,jadi ini adalah peluang untuk "bermain".
Pilkada,
Yasudahlah terserah.
Terimakasih telah membaca.
Komentar
Posting Komentar