+Posisi ber-oposisi

Ini merupakan opini yang didasari kebaikan atau kemanfaatan(jika baik terlalu luas untuk bisa dipahami),yang diawali dari kejengkelan saya dengan pujian-pujian yang dilontarkan oleh non-pemerintah yang menggunakan hak-nya untuk menyanjung dan memanjakan pemerintah yang bagi saya tidak perlu dilakukan,dan sekaligus saya akan batalkan segala argumen yang rutin dikemukakan oleh pihak "pro" tersebut.

Pertama saya ingin kita untuk memahami diri kita sebagai individu dan diri kita sebagai bagian dari kelompok yang dalam konteks ini adalah rakyat,kedua hal tersebut harus dibedakan karena keduanya memiliki bentuk yang berbeda yang membuat cara perlakuannya-pun berbeda.

Sebagai individu saya sangat menyarankan anda untuk menjadi orang yang optimis atau stoic atau penerima,tetapi sebagai rakyat tidak pantas bila kita mengambil posisi itu,karena tidak semua orang "saya",kita berbeda-beda,mungkin anda menjadi optimis atau stoic atau penerima karena membaca maupun pengalaman,tetapi apakah orang disekitar anda memahami apa yang anda pahami dan merasakan apa yang anda rasakan?,tentu tidak,banyak orang yang kesusahan tidak bisa "menerima" seperti anda,dan mengambil sikap yang didasari "ketenangan" seperti anda.

Oleh karena itu saya sarankan sebagai rakyat jadilah pesimis,penolak,penggerutu yang militan,karena sikap "menerima" anda dalam konteks negara,akan membuat pemerintah menjadi malas karena rakyatnya memiliki sikap "penerima" walaupun selalu dihujani masalah.

"Kita objektif dong kalo pemerintah buruk ya di kritik,kalo pemerintah baik ya di puji"

Saya tidak berkata itu tidak boleh dilakukan,tetapi itu tidak perlu dilakukan,karena tugas pemerintah adalah berbuat "baik",jadi untuk apa kita memuja dan memuji pemerintah yang menjalankan "kewajibannya"?.

" Tapi kalo semuanya mengkritik,siapa yang membela dan mendukung pemerintah?,

Biarkan pemerintah membela dirinya sendiri,dia punya kuasa dan dana yang berlimpah,hadirkan para intelektual yang di bayar untuk menjawab segala kritikan,kabar buruk,dan dugaan yang beredar di masyarakat tentangnya dengan argumentasi yang baik.Dan menjadi oposisi memang bisa diartikan sebagai sikap tidak mendukung pemerintah,tetapi itu mendukung kepemerintahan,menjadi oposisi berarti menjaga kepemerintahan yang cenderung angkara,oposisi berusaha untuk menutup segala kesempatan pemerintah untuk dapat melakukan hal tersebut,dan menjadikan pemerintah agar melakukan kewajibannya.

"Tapi kita harus bersyukur,negara kita lebih baik loh dari banyak negara lainnya"

Kritik itu artinya "Saya tidak setuju",bukan "Saya tidak bersyukur",bagi saya menjadi oposisi adalah sikap nasionalisme yang sesungguhnya,"belilah produk dalam negri",tapi bila kualitas produk dalam negrinya "buruk" tentu wajar orang-orang malas membeli,jadi jangan menjadi "penerima",melainkan pejuang yang menginginkan perkembangan dan kemajuan bagi negaranya,itulah cinta yang benar,bukan segala sesuatu diterima saja walaupun itu adalah "sampah".

Saya disini tidak menyarankan anda menjadi oposisi yang emosional dan perusak saya menentang itu,jadilah oposan yang berlandaskan moral dan rasionalitas/akal sehat,jadi untuk pro harus rasional dan untuk beroposisi-pun harus rasional,agar argumentasinya jelas dan memicu timbulnya solusi,bukan ngoceh tidak karuan seperti,"Goblok!" dan sebangsanya,lalu saya menggunakan istilah "optimis" dan "pesimis" yang digunakan oleh umum,yang menurut saya telah direduksi dari pengertian awal
(baca juga:Optimisme,realisme,pesimisme hari ini).

Terimakasih telah membaca.

Komentar

Postingan Populer